Pengguna CAPD Masih Minim, Pasien Cuci Darah di RSUD Ulin Makin Membludak

Banjarmasin, DUTA TV – Dijalankan sejak 2006 oleh RSUD Ulin Banjarmasin, pengguna CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), metode dialisis atau cuci darah mandiri, masih sangat minim. Berdasarkan data, hingga saat ini hanya ada 30 pasien yang berani menjalankan cuci darah dengan prosedur CAPD.
Padahal, CAPD mempermudah pasien agar tak perlu datang ke rumah sakit untuk melakukan cuci darah dengan mesin dan mengantre.
Prosedur itu juga mengurangi beban rumah sakit, di mana setiap bulannya RSUD Ulin harus menjalankan prosedur cuci darah mencapai 2.000 tindakan.
Dalam Wet Workshop atau Konferensi Kerja Pertemuan Ilmiah Tahunan Perhimpunan Nefrologi Indonesia, Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Ulin menyambut baik kegiatan ini. Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi para pakar dan ahli nefrologi untuk menerapkan CAPD dengan teknik yang lebih simpel.
Hal itu juga diharapkan dapat mengurangi angka risiko, terutama infeksi, yang selama ini menjadi penyebab banyak pasien gagal ginjal menolak prosedur cuci darah mandiri.
“Jadi ini memang sangat menguntungkan karna pasien tidak tergantung pada mesin cuci darah jadi kalau cuci darah antri mesin segala macam, dia masih terikat dengan mesin jadi gak bisa pergi jauh perjalanan jauh susah karna dia mesti dekat dengan RS. Nah dengan alat itu dia bisa mandiri akhirnya bisa hidup normal mobilisasi dan sebagainya itu sangat mengurangi beban RS karna kalau dia cuci darah antri tidak tertangani itu jadi konflik kedepan,” ujar Dr. dr. Agung Ary Wibowo, Wadir Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin.
“Memang banyak sekali para pasien ini yang masih takut menggunakan CAPD karna harus mandiri kalau mandiri itu tentu harus ada pelatihan dulu agar CAPD ini tidak menyebabkan komplikasi yang tidak kita harapkan terutama infeksi,” jelas Prof. Dr. dr. Rudi Supriyadi, perwakilan instruktur workshop Pernefri 2025.
CAPD sendiri adalah metode dialisis atau cuci darah yang dilakukan di rumah menggunakan rongga perut sebagai filter alami untuk membersihkan darah dari zat sisa metabolisme dan cairan berlebih.
Prosedur ini dilakukan secara manual tanpa mesin, memberikan fleksibilitas kepada pasien untuk tetap aktif dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi alternatif terapi pengganti ginjal selain hemodialisis.
“Kegiatan wet workshop bagaimana melaksanakan pemasangan CAPD kemudian juga pemasangan akses selang jadi tidak perlu ditusuk-tusuk lagi pembuluh darahnya jadi dipasangkan selang untuk aliran darah ada yang sementara ataupun permanen selain itu ada kehadiran guru-guru besar dan senior se-Indonesia. Terimakasih kepada RSUD Ulin yg bersedia jadi tempat pelatihan,” ungkap Dr. dr. Mohammad Rudiansyah, Ketua Panitia PIT Pernefri 2025.
Sementara itu, konferensi kerja tahunan ini menjadi ajang para ahli nefrologi se-Indonesia untuk bertukar pikiran mengenai diagnosis dan pengobatan penyakit ginjal. Tahun ini, Banjarmasin menjadi tuan rumah dengan kegiatan terpusat di RSUD Ulin Banjarmasin.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





