Pemanfaatan Papan Interaktif Digital di SD Kalsel Belum Optimal, Guru Hadapi Kendala Infrastruktur

BANJARMASIN, DUTA TV – Penggunaan Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah dasar di Kalimantan Selatan belum sepenuhnya optimal. Meski perangkat tersebut telah terpasang di ruang-ruang kelas, intensitas pemanfaatannya masih terbatas.

Hasil monitoring dan evaluasi (monev) menunjukkan, sebanyak 65 persen guru hanya menggunakan PID satu hingga dua kali dalam sepekan.

Sementara itu, 24 persen guru menggunakan PID tiga hingga empat kali per pekan. Adapun guru yang memanfaatkannya lebih dari empat kali dalam sepekan hanya tujuh persen. Bahkan, masih terdapat empat persen guru yang sama sekali belum menggunakan perangkat tersebut.

Data ini menunjukkan bahwa pengadaan teknologi belum sepenuhnya diikuti dengan pemanfaatan secara rutin dalam proses pembelajaran. Padahal, PID diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan sesuai dengan karakteristik anak-anak generasi Alpha.

Persoalan infrastruktur menjadi salah satu faktor utama yang menghambat optimalisasi penggunaan PID. Berdasarkan hasil monev, kendala jaringan internet menempati urutan tertinggi dengan persentase 27 persen. Selanjutnya, keterbatasan waktu pembelajaran mencapai 16 persen dan persoalan pasokan listrik sebesar 15 persen.

Keterbatasan bahan atau media pembelajaran digital juga menjadi kendala bagi 14 persen guru. Sementara itu, sembilan persen guru menyebut keterampilan teknologi sebagai hambatan, delapan persen mengaku belum terbiasa menggunakan PID, dan tiga persen menghadapi masalah perangkat. Hanya tujuh persen guru yang menyatakan tidak mengalami kendala.

Jika digabungkan, persoalan internet dan listrik mencakup 42 persen dari kendala yang dilaporkan. Temuan ini memperlihatkan bahwa keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak hanya bergantung pada ketersediaan perangkat dan kemampuan guru, tetapi juga pada dukungan infrastruktur yang memadai.

Menariknya, semakin sering PID digunakan, semakin nyata pula sejumlah hambatan infrastruktur yang dirasakan guru. Pada kelompok guru yang menggunakan PID tiga hingga empat kali sepekan, keluhan mengenai internet mencapai 32 persen dan listrik 18 persen. Tidak ada guru dalam kelompok tersebut yang menyatakan bebas kendala.

Sebaliknya, pada kelompok guru yang menggunakan PID satu hingga dua kali sepekan, persoalan belum terbiasa menggunakan perangkat mencapai 12 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kelompok yang lebih sering menggunakannya, yakni lima persen.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan digitalisasi pendidikan di Kalimantan Selatan tidak dapat dipandang secara seragam. Setiap sekolah memiliki kondisi geografis, ketersediaan infrastruktur, serta tingkat kesiapan guru yang berbeda.

Sekolah di kawasan perkotaan dengan jaringan internet stabil dan pasokan listrik yang andal tentu memiliki peluang lebih besar untuk mengoptimalkan PID. Sebaliknya, sekolah di wilayah pesisir, tepian sungai, maupun kawasan sekitar Pegunungan Meratus dapat menghadapi tantangan berbeda, terutama jika akses internet dan listrik belum memadai.

Dalam konteks ini, semangat kebhinnekaan perlu menjadi pertimbangan dalam merumuskan kebijakan digitalisasi pendidikan. Keberagaman tidak hanya berkaitan dengan suku, bahasa, dan agama, tetapi juga mencakup perbedaan kondisi sekolah, kemampuan guru, serta kebutuhan pembelajaran di setiap daerah.

Kebijakan yang menyamaratakan pendekatan berisiko memperlebar kesenjangan antara sekolah yang telah siap memanfaatkan teknologi dan sekolah yang masih menghadapi keterbatasan. Karena itu, penerapan PID perlu disertai pemetaan kebutuhan dan dukungan yang sesuai dengan kondisi masing-masing satuan pendidikan.

Selain infrastruktur, kesiapan sumber daya manusia juga perlu mendapat perhatian. Jika kendala keterampilan teknologi dan ketidakbiasaan menggunakan PID digabungkan, jumlahnya mencapai 17 persen. Meskipun bukan hambatan terbesar, persoalan tersebut tetap membutuhkan penanganan melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan.

Ketersediaan konten pembelajaran digital juga tidak kalah penting. PID akan lebih bermakna apabila materi yang ditampilkan dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik di Kalimantan Selatan. Cerita rakyat Banjar, kehidupan masyarakat sungai, pasar terapung, hingga kearifan lokal masyarakat Dayak Meratus dapat menjadi bagian dari materi pembelajaran yang kontekstual.

Dengan demikian, teknologi tidak sekadar menjadi sarana menampilkan materi pembelajaran yang seragam, tetapi juga menjadi media untuk mengenalkan dan memperkuat pemahaman peserta didik terhadap keberagaman budaya dan lingkungan di sekitarnya.

Hasil monev turut mencatat enam kebutuhan utama yang disampaikan sekolah, yakni pelatihan pemanfaatan PID untuk pembelajaran luring, pelatihan pembuatan media pembelajaran digital, pendampingan dan bimbingan teknis, lokakarya penggunaan aplikasi pembelajaran, penambahan perangkat agar setiap kelas memiliki PID, serta evaluasi kualitas pembelajaran secara berkala.

Berbagai masukan tersebut menunjukkan pentingnya dukungan berkelanjutan bagi guru. Pelatihan satu kali belum tentu cukup untuk membangun keterampilan dan kebiasaan baru.

Guru membutuhkan pendampingan yang berkesinambungan serta disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing sekolah.

Pelatihan pemanfaatan PID untuk pembelajaran luring juga menjadi salah satu solusi yang relevan.

Dengan kemampuan menyiapkan dan menggunakan materi tanpa koneksi internet, guru tetap dapat memanfaatkan perangkat tersebut meskipun jaringan di sekolah belum stabil.

Pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan pihak sekolah perlu bekerja sama untuk memastikan program digitalisasi pendidikan berjalan efektif.

Pemetaan kondisi jaringan internet dan pasokan listrik di setiap sekolah dapat menjadi dasar penentuan prioritas bantuan dan pendampingan.

Sekolah yang masih terkendala infrastruktur dapat diprioritaskan untuk mendapatkan pelatihan pembelajaran luring dan dukungan teknis.

Sementara itu, sekolah yang telah memiliki infrastruktur memadai dapat didorong untuk mengembangkan media pembelajaran digital yang kreatif dan berbasis kearifan lokal.

Pada akhirnya, keberhasilan digitalisasi pendidikan tidak cukup diukur dari jumlah perangkat yang telah dipasang di ruang kelas. Hal yang lebih penting adalah sejauh mana teknologi tersebut dimanfaatkan secara rutin dan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.

Papan Interaktif Digital seharusnya tidak berhenti sebagai perangkat baru di dinding kelas. Dengan dukungan infrastruktur, peningkatan kompetensi guru, ketersediaan konten yang relevan, dan kebijakan yang memperhatikan keragaman kondisi sekolah, PID dapat menjadi sarana pembelajaran yang lebih interaktif sekaligus memperkuat pemahaman peserta didik terhadap kebhinnekaan.

Kalimantan Selatan memiliki keragaman yang merupakan kekayaan daerah. Karena itu, digitalisasi pendidikan perlu dibangun dengan mempertimbangkan kebutuhan nyata para guru di lapangan. Dengan pendekatan yang tepat, PID dapat menjadi jendela pembelajaran bagi anak-anak Banua, baik di perkotaan maupun di pelosok.

Penulis: Ella Agustin (Mahasiswa Pendidikan IPS Program Doktor Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat dan Widyaprada Ahli Madya BPMP Provinsi Kalimantan Selatan.)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *