Meski Rupiah Melemah, Pemerintah Klaim Ekonomi Tetap Stabil

Jakarta, DUTA TV — Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa meskipun nilai tukar rupiah terkoreksi hingga mencapai Rp16.400 belakangan ini, perekonomian Indonesia tetap menunjukkan stabilitas yang kuat. Hal ini didukung oleh berbagai indikator ekonomi makro positif, seperti penjualan ritel dan kondisi kredit perbankan yang masih solid.
“Kalau kita lihat dari fundamental, seperti indeks penjualan riil masyarakat yang mencerminkan konsumsi masyarakat mengalami pemulihan terutama pada Mei, Juni ini. Kemudian Mandiri Spending Index (MSI), confidence masyarakat, konsumsi semen, konsumsi listrik, PMI semuanya masih dalam relatif terjaga dan ini menjadi fondasi yang cukup baik untuk memproyeksikan pertumbuhan ekonomi kita di kuartal-II ini yang masih terjaga seperti yang terjadi di kuartal-I,” ungkap Sri Mulyani usai mengadakan rapat terbatas pada Kamis (20/6) malam.
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang terdiri dari Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Ketua Dewan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menggelar rapat untuk membahas melemahnya rupiah.
Indikator lainnya, lanjut Sri Mulyani, juga terlihat juga kredit perbankan yang mengalami kenaikan. Hal ini tercermin dari ekspansi kredit, baik itu kredit investasi maupun modal kerja, dan konsumsi.
“Jumlah kredit growth juga mencapai 12,3 persen total peningkatan. Sementara dari dana pihak ketiga juga meningkat 8,1 persen,” tambahnya.
Dalam kesempatan ini, dia juga menegaskan bahwa pengelolaan APBN tahun ini akan tetap dilakukan dengan hati-hati untuk menghadapi tantangan seperti fluktuasi nilai tukar rupiah, perubahan harga minyak, dan hasil imbal dari Surat Berharga Negara (SBN) yang diterbitkan pemerintah.
Menurut Sri Mulani, hal ini penting karena semua faktor tersebut akan berdampak pada struktur APBN di masa depan dan pembiayaannya.(voai)





