Mengenang BJ Habibie : Kuliah di Jerman Tanpa Beasiswa

Ketika datang ke Achen tahun 1955, Habibie adalah satu-satunya mahasiswa yang tidak dibiayai beasiswa. Ibunya yang janda sepenuhnya membiayai kuliahnya. Oleh karena itu, mau tidak mau ia harus menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin.
Habibie juga menjadi ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Achen pada 1957. Di bawah kepemimpinannya, PPI menyelenggarakan “Seminar Pembangunan†yang mengundang semua mahasiswa Indonesia di Eropa. Acara ini berlangsung di Hamburg, Jerman Barat, pada 20-25 Juli 1959. Namun, Habibie sendiri tidak menyertai. Sejak dua bulan sebelum seminar, ia diopname di Bonn karena tuberkulosis. Habibie sempat koma selama 24 jam dan hampir meninggal. Di saat kritis itulah ia membuat sumpahnya yang terkenal.
Lulus diploma pada 1960, Habibie kemudian bekerja sebagai asisten peneliti di Institut Kontruksi Ringan RWTH. Pada awal 1962, Habibie cuti pulang ke Indonesia selama tiga bulan. Di Bandung, ia bertemu dengan teman SMA-nya, Hasri Ainun Basari. Tak lama kemudian, pada 12 Mei 1962, mereka menikah. Bersama Ainun, Habibie kembali ke Achen.
Untuk menanggung biaya hidup berdua, sembari bekerja di Institut Kontruksi Ringan, Habibie bekerja di perusahaan gerbong kereta api Talbot. Saat itu, Talbot tengah mengikuti tender gerbong perusahaan kereta api Jerman Deutsche Bundesbahn. Habibie ditugaskan untuk membuat prototipe gerbong kereta api. Ia lalu mengubah konstruksi konvensional yang sudah dipakai puluhan tahun dengan teknologi konstruksi ringan, seperti ada pesawat. Perubahan ini mengundang pesimisme. Kata Habibie, “Hampir semua berendapat bahwa perubahan yang saya usulkan akan gagal. Sikap mereka yang usianya rata-rata dua kali usia saya, sangat konservatif.†Pada akhirnya, tender itu dimenangkan oleh tim Habibie.

Setelah menyelesaikan pendidikan doktor teknik tahun 1965, Habibie mendapat dua tawaran. Pertama, menjadi pengajar di RWTH, kedua, bekerja di perusahaan pesawat Boeing. Setelah mempertimbangkan dengan istrinya, ia menolak keduanya.
“Dari kepentingan pribadi mungkin tawaran ini harus diterima namun dipandang dari kepentingan pembangunan bangsa, sebaiknya tawaran ini kami tolak dan berusaha bekerja di industri dirgantara untuk mendapatkan informasi dan pengalaman berkarya mengembangkan dan membuat pesawat terbang yang memang dibutuhkan untuk mempertahankan dan membangun Benua Maritim Indonesia,†tulis Habibie.
Habibie kemudian mendaftar di perusahaan pembuat pesawat Hamburger Flugzeug Bau (HFB) yang tengah mengembangkan pesawat Fokker F28 dan Hansajet 320. Setelah HFB berganti nama menjadi Messerschmitt-Boelkow-Blohm (MBB), ia diangkat sebagai Direktur Pengembangan dan Penerapan Teknologi, pada 1973. Jabatan tersebut adalah yang tertinggi di MBB yang pernah dijabat oleh orang asing.
Iklim demokratis di Jerman memengaruhi pandangan hidup Habibie. Ini tampak dalam satu dialognya dengan sang istri, Ainun Habibie, tak lama setelah setelah Presiden Soeharto memintanya mengembangkan industri manufaktur dalam negeri.
“Bukankah keputusan yang hanya didasarkan hanya pada pertimbangan seorang presiden saja merupakan kebijaksanaan yang otoriter dan tidak demokratis ? Semuanya ini berlawanan dan tidak sesuai dengan perilaku dan sifat saya sendiri, yang telah ditempa dan berkembang dalam lingkungan intelektual, bebas, dan demokratis,†kata Habibie.
Iklim demokratis di Jerman membuka peluang Habibie untuk mengembangkan diri. Setelah dua tahun di Jerman, di usia 21 tahun, ia telah dipercaya sebagai ketua PPI Achen. Di usia 25 tahun, ia telah memimpin tim di perusahaan Talbot, mengatasi direktur dan kepala yang usianya dua kali lipat lebih usia Habibie. Dalam iklim demokratis, rasionalitas diutamakan. Seseorang dinilai berdasarkan kapasitasnya, bukan usia. Iklim ini pulalah yang ia upayakan tercipta semasa pemerintahannya sebagai presiden RI ketiga.
Berbagai sumber





