Mengapa Banjir Di Kalimantan Selatan Susah Surut

Oleh Prof. Dr. Edvin Aldrian (Pakar Metereologi & Klimatologi BPPT)

Setelah mengalami banjir akibat hujan deras seminggu kemarin ternyata banjir di Kalimantan Selatan susah surut. Daerah hilir yang merupakan dataran rendah dekat pantai masih tergenang air. Curah hujan yang sedemikian tinggi hingga mencapai 270 mm sehari pada tanggal 13 Januari akibat tumpukan atau pumpunan awan yang terjadi. Nilai 270 mm adalah rekor hujan ekstrim tersendiri. Perhitungan BMKG dibutuhkan sehari hujan diatas 5 mm sehari agar terjadi limpasan. Limpasan adalah kondisi dimana air hujan tidak sanggup lagi terserap kedalam tanah. Nilai 270 mm tersebut sangat besar untuk ukuran hujan sehari karena rata-rata dalam sebulan suatu wilayah pada musim hujan di Indonesia menampung biasanya 300 mm sebulannya. Ini adalah hasil pengukuran di bandara Syamsudin Noor Banjarbaru.

Lihat Juga :  Momentum HPN 2021 Sebagai Ajang Penyebaran Informasi Optimisme Penanganan COVID-19

Kembali ke judul diatas, penyebab banjir masih belum surut ada 2 hal. Pertama, masih mengalirnya hujan atau aliran limpasan dari wilayah hulu menuju wilayah banjir di hilir. Meskipun hujan tidak terjadi dalam 1 atau 2 hari tetapi aliran air masih terjadi atau mengalir dari hulu ke hilir sehingga menambah aliran limpasan. Ada sekitar 11 sungai yang mengalir di sekitar sungai Martapura di Kalimantan Selatan. Kedua adalah suasana laut yang masih pasang. Kemarin senin 18 Januari terjadi pasang bulan purnama. Biasanya pasang ini adalah yang terbesar karena gaya tarik bulan maksimum. Hal ini terbukti terjadi banjir rob di wilayah Manado akibat hal yang sama. Berbeda dengan Manado yang sebelumnya tidak terjadi banjir, maka di Kalimatan selatan sebelumnya telah terjadi banjir.

Lihat Juga :  Luhut akan Pimpin Rapat Banjir Kalsel

Dalam pasang surut terjadi 2 jenis pasang. Pertama pasang harian atau diurnal. Pada daerah pantai selatan Kalimantan Selatan memiliki pasang puncak sekali dalam sehari, selanjutnya mengikuti evolusi bulan mengelilingi bumi dapat terjadi pasang purnama atau dikenal istilah spring tide. Hal ini terjadi kemarin Senin tanggal 18 Januari 2021. Puncak pasang ini yang menahan aliran dari sungai tidak dapat terbuang ke laut. Akan dibutuhkan waktu sekitar 4-5 hari menunggu pasang spring tide ini lewat dahulu agar aliran ke laut dapat kembali lagi.

Akses jalan raya di salah satu kawasan di desa Manarap Kertakhanyar Kabupaten Banjar, Kalsel, bisa dilalui oleh Jukung atau Kapal, senin sore (18/1)

Dengan masih turunnya hujan di wilayah Kalimantan Selatan, maka diperlukan kesabaran sedikit lagi dari masyarakat agar seluruh genangan air tersebut dapat seluruhnya mengalir menuju laut. Hujan deras di minggu lalu merupakan gangguan cuaca yang tidak dapat diperkirakan besarannya hingga kondisi ekstrim seperti digambarkan diatas. Suasana spring tide juga harus diperhatikan karena menghalangi aliran ke pantai. Sebagai negara kepulauan seringkali wilayah lain mengalami kasus yang sama disaat banjir.

Lihat Juga :  Komisi III DPR RI Bersama Paman Birin Distribusikan 2.000 Paket Sembako

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *