Konsorsium Nasional Psikologi PTKI Perkuat Kurikulum, Riset, dan Inovasi Berbasis Nilai Keislaman

Banjarmasin, Duta TV — Kegiatan Konsorsium Nasional Keilmuan Psikologi PTKI Tahun 2026 digelar di Banjarmasin, Kamis sore.
Forum ini dihadiri akademisi, praktisi psikologi Islam, serta pimpinan program studi psikologi dari berbagai perguruan tinggi keagamaan Islam di bawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia.
Mengusung tema Transformasi Keilmuan Psikologi Islam untuk PTKI Unggul dan Berdampak, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di bidang psikologi Islam.
Rektor UIN Antasari Banjarmasin, Profesor Doktor Hajjah Nida Mufidah, mengatakan konsorsium ini menjadi momentum untuk menghadirkan inovasi yang memperkuat kualitas pendidikan tinggi psikologi di Indonesia.
Menurutnya, hasil-hasil riset yang dikembangkan harus mampu menjawab berbagai persoalan sosial di masyarakat dan memberikan solusi yang berdampak nyata.
Ia juga menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh membiarkan mahasiswa tertinggal dari perkembangan teknologi. Karena itu, penguasaan teknologi harus diimbangi dengan perhatian terhadap kesehatan fisik dan mental melalui penguatan riset dan pembelajaran.
Prof. Dr. Hj. Nida Mufida, Rektor UIN Antasari, mengatakan, “Kami menyambut baik kehadiran para pimpinan program studi psikologi di Indonesia. Setiap tahun harus ada inovasi yang menguatkan pendidikan tinggi, khususnya psikologi di Indonesia. Riset-riset yang dilakukan diharapkan mampu menjawab berbagai permasalahan sosial di masyarakat sehingga memberikan solusi yang berdampak. Kami juga tidak ingin mahasiswa tertinggal dalam perkembangan teknologi. Karena itu harus ada keseimbangan antara kemajuan teknologi dengan kesehatan fisik dan mental melalui riset.”
Sementara itu, Ketua Konsorsium Keilmuan Psikologi PTKI, Profesor Doktor Hajjah Ulfiah, menjelaskan konsorsium menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi program studi psikologi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam.
Menurutnya, pengembangan psikologi Islam di Indonesia harus mampu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kecerdasan artifisial atau AI, tanpa meninggalkan nilai-nilai agama serta kearifan lokal yang menjadi ciri khas perguruan tinggi keagamaan Islam.
Ia menambahkan, kurikulum psikologi di lingkungan PTKI harus tetap mengacu pada standar nasional, namun tetap mempertahankan kekhasan psikologi Islam agar mampu memberikan kontribusi dan warna tersendiri bagi perkembangan keilmuan psikologi di Indonesia.
Prof. Dr. Hj. Ulfiah, Ketua K2P PTKI, mengatakan, “Konsorsium psikologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program studi psikologi di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam Kementerian Agama. Forum ini membahas penguatan keilmuan psikologi dan psikologi Islam di Indonesia. Perkembangan teknologi termasuk AI harus menjadi bagian dari pengembangan keilmuan. Namun kekhasan psikologi Islam tetap harus berlandaskan nilai-nilai agama sehingga mampu memberikan warna dan keunggulan tersendiri tanpa meninggalkan standar kurikulum nasional.” ujarnya.
Melalui konsorsium nasional ini, diharapkan lahir berbagai rekomendasi untuk memperkuat kualitas pendidikan psikologi Islam di lingkungan perguruan tinggi keagamaan Islam.
Sekaligus menghasilkan riset yang mampu memberikan solusi atas berbagai persoalan masyarakat di era transformasi digital.
Nina Megasari





