Ketahui Doomscrolling dan Dampaknya Bagi Kita

Jakarta, DUTA TVDi era digital seperti sekarang, hampir semua orang memulai hari dengan membuka ponsel.

Entah untuk mengecek media sosial, membaca berita terbaru, atau sekadar melihat apa yang sedang ramai dibicarakan.

Namun, tanpa disadari, kebiasaan ini bisa berubah menjadi sesuatu yang kurang sehat, yaitu doomscrolling.

Istilah doomscrolling atau doomsurfing semakin sering dibahas dalam dunia psikologi karena berkaitan dengan kebiasaan seseorang yang terus-menerus mengonsumsi berita atau konten bernada negatif di internet, meskipun informasi tersebut justru memicu rasa cemas, takut, sedih, hingga stres.

Fenomena ini semakin umum terjadi seiring berkembangnya media sosial yang dirancang untuk membuat pengguna terus menggulir layar (infinite scroll).

Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca kabar buruk tanpa menyadari dampaknya terhadap kesehatan mental maupun fisik.

Apa itu doomscrolling?

Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial atau portal berita untuk mencari informasi, terutama berita yang bersifat negatif seperti bencana, konflik, krisis ekonomi, kriminalitas, hingga isu kesehatan.

Ironisnya, banyak orang merasa bahwa membaca berita buruk akan membuat mereka lebih siap menghadapi situasi.

Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Semakin banyak informasi negatif yang dikonsumsi, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dirasakan.

Kebiasaan ini menjadi semakin sulit dihentikan karena algoritma media sosial cenderung menampilkan konten yang mampu memancing emosi pengguna.

Rasa takut, marah, atau penasaran membuat seseorang bertahan lebih lama di aplikasi sehingga platform terus menyajikan konten serupa.

Memperoleh berita terbaru memang penting. Namun, mengonsumsi informasi secara berlebihan, terutama yang bernada negatif, justru dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik.

Mengenali tanda-tanda  doomscrolling  menjadi langkah awal untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Dengan mengatur waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang kredibel, dan menjaga keseimbangan aktivitas digital dengan kehidupan sehari-hari, kamu tetap bisa mendapatkan informasi tanpa harus mengorbankan kesehatan mental.(ant)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *