Kenapa Masjid Bambu Diberi Nama KH. Abdul Qadir Hasan?

DUTA TV KALSEL – Setelah melalui berbagai tahapan, pembangunan masjid Bambu KH. Abdul Qadir Hasan atau masjid Bambu Kiram yang dirancang sejak 2018 silam, siap digeber pembangunannya.

Proses itupun akan ditandai dengan penentuan arah kiblat masjid pada Jumat 14 agustus 2020 di desa Kiram Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.

Selain desain ikonik, filosofi yang mendalam serta mengambil arsitektur sarat makna, pemberian nama masjid Bambu Kiram ternyata juga memalui proses diskusi yang panjang hingga disepakati memakai nama KH. Abdul Qodir Hasan.

Di Kalimantan Selatan sendiri nama KH. Abdul Qodir Hasan Al Banjari atau guru Tuha dikenal sebagai tuan guru yang memiliki nama besar di bidang agama dan dunia pendidikan di banua termasuk kontribusinya kala revolusi .

Guru Tuha dilahirkan di desa Tunggul Irang pada 1891 M. Beliau menimba ilmu agama dari berbagai ulama di berbagai penjuru daerah hingga ke Mekkah Al Murromah.

Dikutip dari Website pondok pesantren darussalam.com, guru Tuha merupakan pimpinan pondok pesantren Darussalam ke-4 di periode 1940-1959 M, periode tersebut bertepatan dengan masa pendudukan Jepang.

Namun di tengah tekanan proses belajar mengajar tetap mampu berjalan. Selain itu, guru Tuha juga dikenal sebagai pendiri sekaligus pimpinan pertama Nahdlatul Ulama di Kalimantan Selatan.

Keberadaan organisasi inipun menjadi wadah menjalankan berbagai program membangun dan membantu umat. Lewat buah fikir dan keberadaan program NU itu pula jasa guru Tuha kian dikenal karena mampu memberi solusi atas berbagai persoalan umat, mulai dari persoalan keagamaan hingga persoalan sosial termasuk membantu persoalan keamanan.

Tak cukup sampai di situ, di masa revolusi, guru Tuha juga dikenal sebagai sesepuh gerakan Gerilia di Kalimantan. Dalam prosesnya beliau aktif memberi dukungan moril bagi para pejuang yang mengusir upaya penjajahan kembali tentara Belanda.

Di tahun selanjutnya pada proses awal kemerdekaan RI guru Tuha juga aktif memulihkan keamanan, bersama beberapa ulama besar banua.

Guru Tuha wafat pada 17 Juni 1978 M dan dimakamkan di kediaman di desa Pesayangan Martapura, Kab. Banjar, Kalimantan Selatan.

Reporter: Muhtar Kusuma Atmaja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *