Karhutla Kalsel Makin Parah, #PrayForKalsel Menggema di Media Sosial

Banjarmasin, Duta TV — Tagar #PrayForKalsel semakin bermunculan di media sosial. Ungkapan keprihatinan ini muncul menyusul semakin parahnya kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.

Asap pekat akibat karhutla mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Jarak pandang menurun, udara menjadi tidak nyaman, sementara warga terpaksa beraktivitas di tengah kondisi lingkungan yang dipenuhi kabut asap.

Munculnya tagar #PrayForKalsel bukan sekadar ajakan untuk mendoakan kondisi Kalimantan Selatan. Tagar ini juga menjadi bentuk keresahan sekaligus kritik terhadap penanganan karhutla yang dinilai belum cukup tegas.

Di tengah musim kemarau yang membuat lahan semakin mudah terbakar, masyarakat mempertanyakan masih terjadinya pembakaran hutan dan lahan. Dugaan pembakaran yang dilakukan secara sengaja juga menjadi sorotan, terutama ketika kebakaran meluas dan dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Kondisi ini membuat pemerintah dituntut tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga mengambil langkah tegas terhadap pihak yang terbukti melakukan pembakaran secara ilegal.

Masyarakat berharap penegakan hukum tidak berhenti pada penanganan di lapangan, tetapi juga mampu mengungkap dan menindak pelaku maupun pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya kebakaran.

Pasalnya, karhutla bukan sekadar persoalan lahan yang terbakar. Dampaknya merembet ke berbagai sektor, mulai dari terganggunya mobilitas warga, aktivitas pendidikan dan ekonomi, hingga kualitas udara yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Melalui tagar #PrayForKalsel, suara masyarakat di media sosial menjadi pengingat bahwa persoalan karhutla membutuhkan perhatian serius dan tindakan nyata. Pemerintah dan aparat penegak hukum pun didorong untuk tidak menutup mata terhadap persoalan tersebut.

#PrayForKalsel akhirnya menjadi simbol keresahan warga sekaligus harapan agar langit kembali biru, udara kembali bersih, dan karhutla tidak lagi menjadi bencana yang terus berulang setiap musim kemarau.

Reporter : Evi Dwi Herliyanti

Helman

Uploader.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *