Ini Langkah Darurat saat Terkena Heatstroke

Jakarta, DUTA TV – Dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey mengatakan heatstroke atau sengatan panas merupakan kondisi darurat medis yang dapat ditandai dengan gangguan fungsi otak seperti kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga hilang kesadaran.
“Heat exhaustion dan heatstroke berada dalam spektrum yang sama, tetapi heatstroke merupakan keadaan darurat medis,” kata Pandey, seperti dikutip dari Hindustan Times, Rabu.
Seseorang yang mengalami heat exhaustion umumnya masih sadar dan responsif meski merasakan keringat berlebih, lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, dan denyut nadi cepat.
Namun, kondisi dapat berkembang menjadi heatstroke ketika suhu inti tubuh meningkat hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi fungsi otak.
“Tanda peringatannya meliputi kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, hilang kesadaran, atau perilaku yang tidak biasa,” ujarnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa semua penderita heatstroke pasti berhenti berkeringat. Menurut dia, sebagian pasien, terutama yang mengalami heatstroke akibat aktivitas fisik berat, masih dapat berkeringat.
“Kulit panas dan kering memang bisa menjadi tanda heatstroke yang sudah lanjut, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan diagnosis,” katanya.
Tubuh biasanya mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Namun, saat terpapar panas ekstrem, mekanisme pendinginan dapat gagal sehingga suhu tubuh meningkat cepat dan berisiko merusak organ.
Jika menemukan seseorang yang diduga mengalami heatstroke, Pandey menyarankan segera menghubungi layanan medis darurat dan memindahkan korban ke tempat yang teduh atau berpendingin udara.
Pakaian yang berlebihan perlu dilepas, lalu tubuh didinginkan menggunakan air dingin, handuk basah, kipas angin, atau kompres es yang ditempatkan di leher, ketiak, dan selangkangan.
Perendaman seluruh tubuh dalam air dingin dapat menjadi metode efektif untuk menangani heatstroke berat jika dilakukan dengan benar.
Namun, prioritas utama tetap menurunkan suhu tubuh secepat mungkin sambil menunggu bantuan medis tiba.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati beraktivitas di luar ruangan saat suhu udara dan kelembapan tinggi karena kondisi tersebut menghambat penguapan keringat yang menjadi mekanisme utama pendinginan tubuh.
Menurut dia, olahraga luar ruangan sebaiknya dilakukan saat matahari terbit ketika suhu dan paparan radiasi matahari masih rendah.
Sementara kelompok seperti lansia, anak-anak, penderita obesitas, diabetes, penyakit jantung, gangguan ginjal, pekerja lapangan, serta atlet memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit terkait panas karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu tidak seefektif orang sehat pada umumnya.(ant)





