Ini Kriteria Baru Rawat Inap BPJS Kesehatan

Ilustrasi (Foto : net)

Jakarta, DUTA TV – Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) telah menetapkan 12 kriteria yang harus dipenuhi rumah sakit dalam penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) BPJS Kesehatan. Ini berlaku bertahap mulai Juli 2022 dengan sembilan kriteria terlebih dahulu.

Ketua DJSN Andie Megantara mengatakan pada Juli 2022 implementasi kelas standar BPJS Kesehatan baru berlaku di 50% rumah sakit vertikal atau pemerintah dan Januari 2023 di 50% RSUD Provinsi. Selanjutnya diikuti 50% RSUD Kabupaten/Kota dan 50% rumah sakit swasta pada Juli 2023.

“Pada Desember 2022 diharapkan implementasi 9 kriteria KRIS telah diterapkan pada 100% rumah sakit vertikal. Desember 2024 targetnya 12 kriteria KRIS sudah diterapkan di seluruh rumah sakit Indonesia,” kata Andie, Jumat (10/6/2022).

Berdasarkan aturan, sembilan kriteria yang dimaksud adalah komponen bangunan yang digunakan tidak boleh memiliki tingkat porositas yang tinggi. Lalu terkait ventilasi udara, ruangan perawatan pasien harus memiliki bukaan jendela yang aman untuk ventilasi alami dan kebutuhan pencahayaan.

Kriteria ketiga menetapkan pencahayaan ruangan dengan standar 250 lux untuk penerangan dan 50 lux untuk pencahayaan tidur yang diukur dengan luxmeter pada bidang kerja (tempat tidur). Lalu setiap tempat tidur harus dilengkapi dua kotak kontak dan tidak boleh percabangan/sambungan langsung tanpa pengamanan arus, serta bel perawat yang terhubung dengan pos perawat.

Selanjutnya per tempat tidur harus memiliki lemari kecil tempat penyimpanan yang dilengkapi dengan kunci, suhu ruangan berada dalam rentang 20-26° celcius, serta ruang rawat dibagi berdasarkan jenis kelamin, usia, penyakit, dan ruang rawat gabung.

Untuk kriteria ruang inap dan kualitas tempat tidur, jarak antara tepi tempat tidur minimal 1,5 m ke tepi tempat tidur sebelahnya dengan jumlah maksimal 4 tempat tidur per ruangan.

Ukuran tempat tidur minimal panjang 200 cm, lebar 90 cm, tinggi 50-80 cm di mana untuk ruang rawat inap anak boleh disesuaikan dengan usia. Tempat tidur menggunakan minimal 2 posisi yaitu elevasi area kepala dan area kaki (2 crank) dan menggunakan pengaman di sisi tempat tidur.

Serta, tirai atau partisi rel dibenamkan atau menempel di plafon dan bahan tidak berpori. Hal ini bertujuan untuk keamanan dan keselamatan pasien.

Sementara tiga kriteria lainnya yang akan dilakukan bertahap adalah kamar mandi dalam ruang rawat inap, kamar mandi sesuai standar aksesibilitas, dan outlet oksigen di setiap tempat tidur dilengkapi flowmeter yang berada pada dinding belakang tempat tidur pasien.(dtk)

Saksikan terus program-program unggulan Duta Televisi live di sini

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.