Catatan Dari Tanah Suci : Subhanallah, Ada Jangkrik Di Tanah Haram…

Saat memasuki Kota Makkah, masih dalam keadaan berikhrom,  kami rombongan jamaah umroh DTT-BRC Travel, khusuk melaksanakan thawaf, dilanjutkan sai dan diakhiri dengan tahalul. Saat perjalanan pulang,  pimpinan rombongan,  Asep Hasan Badri, atau dikenal dengan Kang Badri,  mengajak rombongan keluar menuju bekas “rumah Abu Jahal” yang saat ini dijadikan toilet.  Beberapa jamaah melakukan buang hajat,  sekaligus sebagai bentuk penistaan kepada sosok Abu Jahal,  yang kita tahu menjadi dalang atas kebencian masyarakat Qurais Makkah kepada Nabi Muhammad SAW dan Umat Islam pada saat itu.  Begitu banyak penderitaan,  fitnah dan kekejaman-kekejaman lainnya yang dilakukan Abu Jahal dan kroninya. Hidupnya,  pemikiran dan juga hartanya hanya difokuskan untuk menyakiti bahkan melenyapkan Nabi Muhammad SAW,  dan tentunya,  menghancurkan umat islam.  Sampai pada akhir hayatnya, dia kehabisan harta benda,  hidup menderita dan miskin di rumahnya.  Dia pun meratapi kekalahannya dengan mencabik-cabik wajah dan tubuhnya, sampai akhirnya meninggal dunia.  Jasadnya baru diketahui setelah lama membusuk.  Naudzubillahi mindzalik..

Dalam perjalanan pulang,  di seberang “Rumah Abu Jahal” terdapat bangunan lama Masjidil Haram,  dimana menurut informasi dari Kang Badri,  marmernya didatangkan dari Jawa Barat.  Ada kebanggaan,  bahwa hasil bumi Indonesia terpampang di Masjidil Haram. Masjid yang disucikan dengan kemuliaan 100 ribu kali lipat dibanding mesjid lainnya di muka bumi ini.

Tidak hanya itu,  penulis agak heran,  dengan suasana dini hari itu,  ada yang tak asing, sayup-sayup terdengar bunyi jangkrik.  Persis seperti di perkampungan di Indonesia.  Tapi bunyi ini terdengar di tengah megahnya Masjidil Haram.

Setelah diamati,  kawanan jangkrik ada dimana-mana,  yang penulis temui tidak terlalu banyak, tapi juga tidak biasa dan tidak terduga akan ditemui di Kota Makkah,  apalagi di Masjidil Haram.

Setelah esoknya mendapat banyak kiriman pesan dari sahabat dan handai taulan di tanah air,  ada yang menanyakan,  ada yang mengkhawatirkan bahkan ada yang mendoakan agar tidak terjadi apa-apa.  Penulis hanya bisa menenangkan dan menyampaikan apa yang dilihat dan dirasa oleh mata kepala penulis.  Tidak ada sesuatu yang mengkhawatirkan,  bahkan merasakan sebuah nuansa berbeda, mendengarkan jangkrik di Kota Makkah.

Jangkrik di Masjidil Haram (06/01/2019)

Setelah mencoba mencari tahu,  ternyata pemberitaan terkait serangga ini luar biasa.  Berbagai foto di media online dan dishare di berbagai sosial media, menggambarkan betapa Makkah “diserbu” oleh serangga ini.  Berbagai analisa pun bermunculan, dari pakar juga dari komentator-komentator kalangan publik figur, dll.

Dalam kaitannya kajian ilmiah,  adalah wajar,  apabila lembaga-lembaga resmi melakukan penelitian penyebabnya. Dan itu dilakukan langsung oleh lembaga riset pemerintah Saudi Arabia.  Termasuk keluarnya analisa,  bahwa ada indukan jangkrik yang lepas dari penangkarannya di wilayah tertentu di seputar Kota Makkah. Jangrik di wilayah tersebut, selama ini dipelihara dan dikembangbiakan sebagai pakan burung, dan mungkin saja ada yang terlepas dan berkembang biak dan menuju Masjidil Haram.

Tapi bagi penulis, karena bukan pakar ilmiah dan tidak dalam kewenangan menganalisa secara eksak,  hanya melihat fenomena ini sebagai kuasa Allah SWT.  Termasuk ketika pada bulan Desember 2018 diberitakan bahwa di Masjidil Haram terjadi hujan deras bahkan hujan es. Satu saja yang ingin ditunjukkan Allah SWT,  bahwa apa yang tidak mungkin bagiNya,  adalah sangat mungkin.

Bahwa atas segala petunjuk kuasaNya,  manusia harus mawas diri dan mencari ibroh atau hikmah,  adalah benar. Karena tugas manusia memang memahami dan mencari apa makna dari setiap kejadian di depannya,  sebagai bentuk pengakuan atas kekuasaanNya dan bentuk rasa syukur.

Ibroh yang bisa kita pahami adalah,  sebuah kejadian luar biasa,  biasanya muncul karena ada keseimbangan yang diganggu dan terganggu. Keseimbangan yang pada tempatnya,  akan menghasilkan sebuah siklus alamiah yang harmonis,  semua berputar,  berkembang biak,  tumbuh,  hidup pada tempat dan porosnya.  Begitu ada yang mengganggu,  biasanya ulah manusia,  jika masih dalam batas toleransi sesuai kebutuhan standar manusia, maka siklus hanya sedikit bergeser dan tidak berdampak luar biasa. Apalagi jika manusia cepat belajar dan melakukan perbaikan.

Tetapi ketika ada hal yang serba “terlalu”, perhitungan yang diluar kewajaran,  mengedepankan ego,  nafsu manusia,  maka siklus terus bergeser, berputar arah, keseimbangan terganggu,  bahkan berbalik arah menjadi sebuah paradoks.  Itulah yang sering terjadi. Meskipun Allah Maha Kuasa atas segala yang ada di muka bumi ini,  tetapi dalam menunjukkan kuasaNya,  selalu memberikan wasilah kepada manusia untuk berpikir,  belajar dan menyadari kesalahannya.

Apakah ini tanda kiamat sudah dekat??  Seperti banyak dianalisa dan dibahas… Wallahualam bisawab, tugas kita hanya bersiap,  mencari bekal sebanyak-banyaknya, memperbaiki diri,  untuk menuju akhir yang husnul khotimah.

(DR)


Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *