BNPT : 80 Persen Terduga Teroris Didominasi Generasi Muda, Akibat Terpapar Paham Radikal

Banjarmasin, DUTA TV– Pengungkapan kasus para terduga teroris di Banjarmasin oleh Densus 88 dan Satbrimob Polda Kalsel telah dilakukan dengan perencanaan yang matang. Demikian disampaikan oleh Ketua Forum Kordinasi Pencegahan Terorisme Provinsi Kalimantan Selatan, Aliansyah Mahadi saat menggelar Refleksi Akhir Tahun Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalimantan Selatan di Banjarmasin, rabu (29/12).

Pasca penangkapan ini, lanjut Aliansyah, kita harus lebih mewaspadai dan lebih peduli terhadap lingkungan sekitar kita termasuk keluarga dari ancaman bahaya radikalisme dan terorisme.

“Penanganan terorisme tidak bisa hanya dilakukan sendiri-sendiri, kita harus saling bersinergi untuk melawan, karena terorisme merupakan musuh bersama,” ucap Aliansyah.

Aliansyah menjelaskan hasil penelitian menyebutkan dari 1000 terduga teroris yang ditangkap, 80 persen diantaranya didominasi generasi muda yang telah terpapar dan terdoktrin paham radikalisme.

Pihak FKPT Kalsel sendiri selama ini gencar melakukan sosialisasi bahaya radikalisme kepada generasi muda, kalangan perempuan hingga pondok pesantren serta bersilaturahmi kepada para tokoh agama dan adat untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan pemberantasan radikalisme dan terorisme.

“Teroris itu seperti bunglon berubah-ubah, untuk itu kita harus saling bersinergi melakukan upaya untuk pencegahan dan pemberantasannya,” tegasnya.

Sementara itu, dalam kegiatan NGOPI COI (Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia) yang digelar Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) merilis potensi radikalisme di Kalimantan Selatan berada di kategori waspada menuju aman atau berada di angka 10,4 persen.

Sementara itu untuk angka keberagamaan atau kebhinekaan berada pada angka 84,8 persen.

“Dan itu bagus, karena artinya masyarakat Kalsel secara umum bisa menerima sebuah keberagamaan,” ucap Ketua FKPT Kalsel, Aliansyah Mahadi.

Meski demikian, dari penelitian yang dilakukan pihaknya ada beberapa hal yang juga patut diperhatikan dan menjadi atensi bersama. Salah satunya ialah masih rendahnya angka literasi digital, dimana literasi yang dilakukan sejauh ini hanya berkisar di angka 50,4 persen.

Padahal menurutnya, secara data 86 persen rata-rata pengguna internet adalah para remaja dan anak muda.

Rendahnya angka literasi digital akan membuat remaja minim akan media pembanding dalam mencari informasi, baik itu yang berkaitan dengan agama dan informasi lain.

Dampaknya, para remaja tersebut akan mudah terpapar paham-paham berbahaya. Selain itu mereka juga minim proteksi terhadap konten-konten negatif yang diterimanya.

“Karena rendahnya proteksi tersebut, mereka akan langsung nge-share konten-konten yang mereka miliki tanpa pertimbangan,” katanya.

“Untuk itu ke depan kita akan prioritaskan dan gencarkan literasi-literasi tersebut dengan sasaran para anak muda,” tambahnya.

Tim liputan

Redaksi

Editor & Uploader

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *