“KURUP KEHIDUPAN”

BANJARMASIN-DUTATV.COM Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, terminology “kurup” ini ditemukan dalam bahasa Banjar yang maksudnya menggambarkan suatu kondisi yang sudah tidak normal lagi, atau bergerak dari titik normal kepada titik batas bawah dalam derajat tertentu dan sampai pada titik nol. Oleh karena itu kalau digambarkan kondisi normal tersebut pada sebuah garis yang berposisi pada angka 10, maka yang dimaksud kurup adalah pergerakan dari dan atau ke angka 9 sampai ke angka 1, yang dalam pergerakan itu secara bertahap semakin menurun. Secara visual kurup diartikan “redup”, karena itu proses pergerakannya dapat dilihat secara visual dari kondisi terang berderang kepada kondisi kegelapan yang pada akhirnya sampai pada kondisi visual yang tidak bisa dilihat lagi.
Sahabat ! umumnya dalam pengalaman masa kecil saya hidup di kampung istilah “kurup” ini sangat popular pada benda yang disebut “senter” atau “sintar” (bahasa Banjar) sebuah benda yang digunakan untuk pencahayaan atau penerangan yang sumber energinya berupa baterai. Saat itu penerangan listrik di kampung kami masih menjadi barang langka, maka senter adalah teman setia pada saat bepergian malam hari disamping juga menjadi alat penerang berburu ikan dan burung di malam hari tersebut. Dan pada saat ketemu kawan yang juga umumnya membawa dan menggunakan senter maka kita akan ditegur (disapa) “sintar” kamu “nyarak” yang artinya terang bernderang dan atau “sintar” kamu “kurup”, yang artinya cahaya yang keluar dari siter tersebut sudah redup.
Sahabat ! seterusnya kata “kurup” ini berkembang dari yang sifatnya “pencahayaan”, seperti lampu kurup untuk memberikan penilaian yang cahayanya redup, kemudian berkembang kepada yang sifatnya menggambarkan “keadaan” seperti “semangatnya kurup” untuk menggambarkan seseorang yang lagi lesu, “matanya kurup” untuk menggambarkan orang yang kurang tidur dan letih dan seterusnya.
Sahabat ! dalam pembicaraan (Bahasa Banjarnya disebut bapanderan) saya dengan isteri pada suatu malam sambil rebahan rehat, akhirnya muncul inspirasi kosa kata yang saya sebut KURUP DALAM KEHIDUPAN, bahkan saya berkesimpulan bahwa KURUP DALAM KEHIDUPAN ADALAH SUATU KENISCAYAAN.
Sahabat ! lihat saja eksistensi atau keberadaan diri kita ini, semakin bertambah usia maka semakin “kurup” atau “peroses kurup” fisik kita, di usia muda mata kita memandang jelas dan tajam, tapi sekarang sudah mulai kabur, dahulu dimasa muda tenaga kita sangat kuat untuk mengangkat benda-benda yang berat, sekarang kita sudah tidak mampu lagi mengangkatnya, dahulu masa muda kita bisa berlari dan berjalan sangat cepat dan jauh, sekarang langkah lari dan jalan kita sudah lamban dan gemulai, dahulu masa muda rambut kita hitam dan lebat, sekarang rambuk kita sudah memutih dan rontok, dahulu muka dan pipi kita bersih dan kencang, sekarang muka dan pipi kita mulai kendur dan keriput, dahulu makan banyak baru terasa kenyang, sekarang makan sedikit sudah merasa kenyang dan seterusnya dan seterusnya.
Sahabat ! dari keniscayaan kurup kehidupan itulah mengandung makna bahwa kehidupan kita akan semakin kurup dan semakin kurup hingga nanti setelah itu semuanya akan sirna ke titik nol, dimana masa “live time” kita telah berakhir. Dan siapaun kita tidak dapat melawan TAKDIR ALAM atau SUNATULLAH dalam proses “kurup” tersebut, kita hanya bisa mengikuti alurnya sampai pada tingkat kurup yang terendah.
Sahabat ! the ultimate meaning atau puncak makna tertinggi dari “proses kurup” kehidupan ini ternyata saat tadarus saya menemukan jawabannya sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah, bahwa “TIAP TIAP YANG BERJIWA AKAN MERASAKAN MATI” (cuplikan sebagian dari Ali-Imran 185), oleh karena itu sekurup apapun posisi kehidupan kita, kita mesti bersyukur TELAH DIBERINYA RAHMAT DAN NIKMAT KEHIDUPAN, dan alangkah “naifnya” kita kalau masih mengeluh dalam kondisi kurupnya kita sekarang, padahal begitu banyak nikmat yang sudah diberikan kepada kita saat saat proses kehidupan ini berlangsung dan bahkan kehidupan itu sendiri adalah nikmat kita yang paling besar disamping keimanan yang menyinari kehidupan kita tersebut.
Sahabat ! dunia inipun juga mengalami proses kurup sampai pada batas akhirnya yang kita sebut kiamat. MARI KITA BERSYUKUR ATAS BANYAKNYA NIKMAT DALAM KEHIDUPAN YANG SUDAH KITA RASAKAN.
Sahabat ! DUNIA SAAT INI MENGALAMI BERADA DALAM PROSES KURUP DENGAN PANDEMI VIRUS COVID 19. LANTAS BERSIKAPLAH SEPERTI KITA MENGHADAPI PROSES KURUPNYA KEHIDUPAN.
Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.
#Semakintuasemakinbijaksana
#semakintuasemakinbahagia





