Merasa Bersalah saat Istirahat di Depan Anak ? Jangan ya, Bun

Jakarta, DUTA TV – Anak usia tiga tahun mungkin jarang bertanya apa yang sedang dilakukan orangtuanya saat beres-beres rumah, karena hal itu tampak seperti rutinitas biasa.
Tanpa disadari, kamu setiap hari sering menunjukkan kepada mereka wujud orang dewasa yang tidak pernah berhenti bekerja.
Terapis pernikahan dan keluarga berlisensi, Kylie Hempy, mengatakan bahwa ketika orangtua sesekali duduk santai, anak mungkin akan kebingungan karena hal itu terasa asing baginya.
“Anak-anak terus-menerus belajar tentang masa dewasa dengan memperhatikan kita,” kata Hempy, menyadur Good Housekeeping.
“Jika mereka melihat kita membersihkan rumah, membalas pesan, melakukan banyak tugas sekaligus, atau merasa bersalah setiap kali kita duduk, mereka juga akan menyerap hal itu,” tambahnya.
Pekerjaan rumah seolah menjadi siklus yang tidak pernah ada habisnya. Mencuci piring, menyiapkan camilan, hingga mengurus keperluan sekolah anak, membuat daftar tugas rasanya tidak pernah benar-benar selesai.
Jika waktu luang hanya bisa didapat setelah semuanya tuntas, anak bisa salah paham tentang konsep rehat.
“Dalam sebuah keluarga, tidak pernah ada waktu ketika semuanya ‘selesai’.
Jika ‘sudah selesai’ adalah syarat untuk beristirahat, anak-anak mungkin belajar bahwa istirahat bukanlah sesuatu yang boleh dimiliki oleh orang dewasa,” jelas Hempy.
Sebagai orangtua, kamu bisa mulai mencontohkan hal ini dengan gaya yang santai.
Misalnya, ikut membaca buku bersama anak, tidur siang pada akhir pekan, atau sekadar duduk di sofa sambil menikmati secangkir kopi sedangkan anak-anak bermain di dekatmu.
Menjadikan waktu bersantai sebagai bagian dari keseharian sangatlah penting.
Kamu mungkin merasa sudah terlambat untuk memulainya, tapi sebenarnya tidak pernah ada kata terlambat.
Tidak dapat dipungkiri bahwa perasaan bersalah sering kali menjadi penghalang utama. Saat anak sibuk bermain, kamu kerap mencuri waktu untuk menyelesaikan pekerjaan lain agar tidak terlalu kewalahan di kemudian hari.
Sebelum memiliki anak, bersantai dengan secangkir kopi dan menonton tayangan kesukaan adalah hal yang biasa. Kini, bentuknya mungkin lebih singkat, tetapi tetap bermakna. Hempy menyarankan untuk memilih satu kebiasaan kecil yang spesifik dan menunjukkannya kepada anak secara rutin.
Beri tahu anak bahwa kamu lelah dan ingin memejamkan mata sejenak.
Kamu tidak perlu merombak gaya hidup atau menyeimbangkan jadwal dengan sempurna. Biarkan anak melihat langsung selama beberapa menit bagaimana wujud seseorang yang tahu kapan harus beristirahat.(kom)





