Konferensi Internasional UIN Antasari Dorong Pengembangan Psikologi Islam

Banjarmasin, Duta TV — Sejumlah akademisi dan praktisi psikologi Islam dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta mahasiswa psikologi, mengikuti The International Conference on Islamic Psychology 2026 di Auditorium Mastur Jahri UIN Antasari Banjarmasin, Jumat siang.
Konferensi internasional ini dipersembahkan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Program Studi Psikologi Islam UIN Antasari Banjarmasin, dengan mengangkat tema Islamic Psychology for Family and Community Resilience, Bridging Faith, Knowledge, and Society.
Kegiatan ini menjadi forum untuk memperkuat pengembangan keilmuan psikologi Islam, sekaligus mempertemukan perspektif akademik, nilai keislaman, dan kebutuhan masyarakat.
Sejumlah akademisi dari dalam dan luar negeri turut dihadirkan sebagai narasumber. Di antaranya Profesor Salasiah Binti Hanin Hamjah dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Profesor Ulfiah dari UIN Sunan Gunung Jati Bandung, serta Profesor Zainal Abidin dari UIN Antasari.
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama, Profesor Sahiron, mengatakan, konferensi ini diharapkan mampu melahirkan pemikiran dan gagasan besar dalam pengembangan psikologi Islam, sekaligus memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
“Bagaimana konferensi ini bisa memberikan pemikiran dan ide-ide besar ilmu psikologi dan psikologi Islam, ini memberikan manfaat secara luas. Atas nama Kementerian Agama, saya berharap psikologi Islam terus ada dan terus dikembangkan. Jadi ada yang namanya integrasi keilmuan, tentang psikologi umum kontemporer dan psikologi Islam,” ujar Prof. Dr. Phil. H Sahiron, M.A., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama.
Sementara itu, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari berharap keberadaan Program Studi Psikologi Islam semakin diminati mahasiswa.
Selain mencetak lulusan yang memiliki kompetensi di bidang psikologi, pendidikan psikologi Islam juga diarahkan agar mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kami punya harapan, agar psikologi Islam ini semakin diminati di UIN Antasari. Tentunya yang paling penting adalah ketika mahasiswanya lulus, dapat bermanfaat untuk masyarakat,” ujar Prof. Dr. H Akhmad Sagir, M.Ag., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari.
Dewan Pakar Konsorsium Keilmuan Psikologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, Profesor Abdul Mujib, menilai pengembangan psikologi Islam perlu memperhatikan karakteristik masyarakat Timur, termasuk nilai agama dan budaya yang berkembang di Indonesia.
Menurutnya, pendekatan psikologi yang berkembang di Barat tidak selalu dapat diterapkan secara langsung pada masyarakat Indonesia, karena terdapat perbedaan nilai dan cara pandang.
“Psikologi Islam itu sudah ada di Indonesia pada tahun sembilan puluhan. Kita orang Timur memiliki kekhasan dibanding orang Barat. Contoh misalnya orang kita jalannya menunduk atau saat berbicara menunduk tidak menatap, itu dalam perspektif Barat minder, tapi belum tentu dalam perspektif Islam. Dalam Islam itu ada tawadhu, yaitu rendah hati. Konferensi ini dalam rangka penguatan teori-teori psikologi Islam, bahkan kita harus dibentuk dari suatu perilaku yang berdasarkan atas nilai-nilai agama, budaya-budaya kita, supaya kita tidak bias,” ujar Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag., M.Si., Dewan Pakar Konsorsium Keilmuan Psikologi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam.
Melalui konferensi ini, pengembangan psikologi Islam diharapkan tidak hanya memperkuat aspek akademik dan teori, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan keluarga dan masyarakat.
Integrasi antara ilmu psikologi kontemporer, nilai-nilai keislaman, serta kearifan budaya lokal dinilai penting, agar pengembangan psikologi Islam semakin relevan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Nina Megasar





