Kerap Rugi Saat Panen, Bandeng Tanah Bumbu Cari Investor di Pamor Borneo

Banjarmasin, Duta TV — Bandeng Tanah Bumbu menjadi salah satu proyek investasi yang paling menarik perhatian pada Investment Forum Pamor Borneo 2026.
Melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menawarkan pembangunan industri Milkfish Cultivation Integrated Canning Industry, yakni budi daya bandeng yang terintegrasi dengan industri pengalengan dan pengolahan.
Nilai investasi proyek ini mencapai 254,9 miliar, dengan estimasi payback period empat tahun tujuh bulan. Produk yang dihasilkan tidak hanya bandeng segar, tetapi juga bandeng kaleng, bandeng beku, hingga bandeng presto dengan target pemasaran 60 persen ekspor dan 40 persen pasar domestik.
Melalui pembangunan industri pengolahan, hasil panen diharapkan dapat diserap sepanjang tahun, sehingga harga menjadi lebih stabil dan kesejahteraan petambak meningkat. Bandeng Tanah Bumbu juga memiliki keunggulan dibanding daerah lain karena dibudidayakan secara tradisional menggunakan pakan alami berupa lumut, sehingga menghasilkan daging lebih padat dan tidak berbau lumpur.
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan produksi bandeng Tanah Bumbu terus meningkat, dari sekitar 2.800 ton pada 2022, naik menjadi 3.018 ton pada 2023, dan kembali meningkat menjadi 3.029 ton pada 2024. Besarnya potensi tersebut diharapkan menarik minat investor.
Mahr ita Sari mengatakan, “Jadi, pada saat pembibitan, pembesaran, dan pemanenan, mereka hanya menggunakan sekali proses. Jadi pada saat panen, itu panennya sangat melimpah. Nah, pada saat panen melimpah, harga turun. Karena harga turun, ini dimanfaatkanlah oleh pengepul. Nah, di sini adalah titik masalahnya. Jadi, pada saat panen melimpah, harga turun, petani kasihan. Nah, kami DPMPTSP Tanah Bumbu memanfaatkan momen ini untuk menawarkan sebuah solusi. Jadi, dengan cara pengawetan, bagaimana hasil panen mereka ini bisa tetap stabil hasilnya dengan cara diawetkan, kami tawarkan dengan skema kemitraan. Petani membikin budi daya, setelah itu ada pengusaha yang membeli suplai dari petani itu sendiri. Nah, setelah itu perusahaan membuat produk ini menjadi bandeng beku dan bandeng kaleng sama bandeng presto.”
Gubernur Kalsel H. Muhidin mengatakan, “Saya sendiripun baru tahu bahwa di Tanbu Kotabaru itu ada bandeng. Nah, jadi artinya kalau ini ada bandeng, apalagi di tiga bulan nanti panen, kita pasarkan di warung-warung Kalsel. Apalagi dagingnya lebih padat daripada di Jawa, kan luar biasa.”
Penawaran proyek bandeng ini merupakan bagian dari Pamor Borneo 2026, kolaborasi Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang berlangsung 7 hingga 9 Agustus 2026, sebagai rangkaian Hari Jadi ke-76 Provinsi Kalimantan Selatan. Dalam Pamor Borneo ditawarkan 15 proyek strategis, di mana sudah tercatat 12 Letter of Interest untuk tujuh proyek investasi dengan total potensi investasi mencapai 62,69 triliun rupiah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Selatan Haris Munandar mengatakan, “Saat ini dijabat oleh ada 15 investasi yang ditawarkan di Kalimantan. Saat ini ada 20 calon investor yang telah hadir langsung dan akan melakukan one-on-one meeting, penelitian secara saksama secara langsung, tanya jawab, diskusi. Dan semuanya ini kalau digabung, saat ini kita punya 12 surat pernyataan minat, bahasa Inggrisnya Letter of Intent, dari keseluruhan proyek investasi yang total nilainya ini alhamdulillah ada Rp62,8 triliun.”
Selain investasi, Pamor Borneo juga memperkuat sektor perdagangan melalui pembinaan UMKM. Tahun ini tercatat komitmen kerja sama perdagangan UMKM dengan sektor perhotelan senilai 100 juta, serta potensi fasilitasi akses pembiayaan lebih dari 6,2 miliar rupiah.
Evi Dwi Herliyanti





