Mengekspresikan Emosi Memang Penting, tapi Nggak Semua Perlu Ditunjukkan di Depan Orang

Jakarta, DUTA TV – Psikolog mengungkapkan bahwa mengekspresikan emosi penting bagi kesehatan mental, tetapi cara dan situasi saat mengungkapkannya juga perlu diperhatikan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam hubungan sosial.
Dikutip dari Psychology Today pada Selasa (7/7), psikolog dari Australian National University Conal Monaghan bersama tim peneliti menjelaskan bahwa setiap masyarakat memiliki “display rules”, yakni norma sosial yang mengatur kapan seseorang dianggap pantas menunjukkan atau menahan emosinya.
Dalam penelitian yang melibatkan responden dewasa di Inggris, tim peneliti mengembangkan Expression Regulation Scale (ERS) untuk mengetahui bagaimana orang memandang ekspresi emosi dalam berbagai situasi, baik di ruang publik maupun privat, serta bersama orang dekat maupun orang yang tidak dikenal.
Hasil penelitian mengelompokkan emosi ke dalam tiga kategori, yakni emosi afiliatif seperti bahagia, bangga, harapan, kasih sayang, dan antusiasme, emosi disruptif seperti marah, benci, iri, dan kesal, serta emosi rentan seperti sedih, takut, malu, bersalah, dan terluka.
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyusun tiga aturan utama dalam mengekspresikan emosi.
Pertama, emosi positif atau afiliatif umumnya dapat diungkapkan secara terbuka.
Menunjukkan kebahagiaan, rasa bangga, atau antusiasme dinilai dapat diterima baik di lingkungan kerja maupun dalam kehidupan pribadi, selama tetap sesuai dengan situasi.
Kedua, emosi disruptif seperti kemarahan sebaiknya lebih dikendalikan.
Peneliti menemukan bahwa meluapkan amarah di depan umum, terutama kepada orang yang tidak dikenal, merupakan pelanggaran norma sosial yang paling besar.
Ekspresi seperti berteriak atau meluapkan kemarahan di tempat umum cenderung mendapat penilaian negatif.
Ketiga, emosi yang menunjukkan kerentanan, seperti kesedihan, rasa takut, atau rasa bersalah, lebih mudah diterima ketika diungkapkan kepada orang terdekat dibandingkan kepada orang yang hubungannya tidak dekat.
Meski demikian, peneliti menilai emosi tersebut tetap dapat disampaikan kepada pasangan atau keluarga selama dilakukan dalam konteks hubungan yang saling mendukung.
Menurut Monaghan dan tim, hubungan yang dekat memungkinkan seseorang mengekspresikan emosi secara lebih terbuka tanpa harus mengabaikan upaya menjaga hubungan tetap positif.
Peneliti menyimpulkan bahwa memahami kapan, kepada siapa, dan bagaimana emosi diungkapkan dapat membantu seseorang membangun interaksi sosial yang lebih baik, sekaligus mengurangi risiko kesalahpahaman dalam hubungan dengan orang lain.(ant)





