UNISM dan Kementerian P2MI Bangun Jalur Karier Internasional bagi Lulusan

Banjarmasin, Duta TV — Komitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk menembus pasar kerja internasional terus diperkuat Universitas Sari Mulia Banjarmasin, salah satunya melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI).
Kerja sama ini bagian dari sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya siap bekerja di dalam negeri, tetapi juga memiliki akses terhadap peluang kerja formal di luar negeri.
Dari kerja sama ini, mahasiswa akan mendapatkan akses lebih luas terhadap informasi ketenagakerjaan internasional, pelatihan kompetensi, hingga penguatan kemampuan bahasa asing yang menjadi kebutuhan utama di berbagai negara tujuan penempatan pekerja migran.
Menteri P2MI, Drs. H. Mukhtarudin, mengatakan peningkatan kualitas calon pekerja migran harus dimulai sejak berada di bangku pendidikan. Menurutnya, perlindungan pekerja migran tidak hanya dilakukan saat bekerja di luar negeri, tetapi juga melalui pembekalan kompetensi, pendidikan, dan kesiapan keterampilan sejak awal.
Saat ini, kebutuhan tenaga kerja Indonesia di luar negeri masih terbuka lebar dengan ratusan ribu peluang kerja yang tersebar di berbagai sektor formal. Namun, peluang tersebut membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus serta kemampuan berbahasa asing.
Di sisi lain, UNISM mengatakan telah lebih dulu menyiapkan berbagai program pendukung untuk menghadapi kebutuhan pasar kerja global, mulai dari kelas bahasa asing, pengembangan keterampilan mahasiswa, hingga program pembinaan yang terintegrasi dengan masyarakat.
“Bagi perguruan tinggi tentu ini sebagai simbiosis mutualisme, saling menguntungkan. Bagi lulusannya bisa mempunyai bekal. Bagi yang mau bekerja dalam negeri kita siapkan, tapi bagi yang mau keluar negeri juga ada jalurnya, ada jalannya, ada prasarana yang disiapkan. Jadi silakan kembali kepada pilihan masyarakat. Mau dalam negeri ada jalannya, mau luar negeri juga ada jalannya. Pilihan ada kepada masyarakat dan mahasiswa, tapi infrastrukturnya kita siapkan,” ujar Drs. H. Mukhtarudin.
“Nah oleh karena itu, jadi ini hari ini membangun strategis ini merupakan sesuatu yang penting, karena tidak mungkin kita kerjakan sendirian, tidak mungkin kita kerjakan hanya secara dari pusat, tetapi juga harus melibatkan sampai ke daerah. Terutama tadi menjaga migrasi yang aman ini, menjaga agar masyarakat terhindar dari TPPO dan lain-lain. Saya kira itulah tujuan dan niat kita hari ini, dalam rangka kita membangun sebuah ekosistem yang holistik daripada pekerja migran Indonesia,” sambungnya.
Sementara itu, Rektor UNISM menyebut kerja sama ini menjadi momen penting untuk memperkuat program yang selama ini telah berjalan. UNISM juga tengah menyiapkan pusat pengembangan karier dan migran sebagai wadah pembinaan mahasiswa yang berminat bekerja dan berkarier di luar negeri.
Keberadaan pusat layanan ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan kebutuhan tenaga kerja internasional, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi lulusan UNISM untuk berkiprah di berbagai negara secara aman, legal, dan profesional.
“Alhamdulillah Sari Mulia sudah menandatangani MoU dengan Kementerian P2MI. Mudah-mudahan mahasiswa lulusan kita itu semakin banyak, semakin meningkat untuk bekerja di luar negeri dan lebih berprestasi. Migrant center-nya sudah ada, alhamdulillah. Sudah banyak. Yang terbaru bertambah lagi dua, ke Jepang sama ke Jerman sudah tambah lagi dua. Jadi tiap semester ada tambah tiga, tambah empat. Nanti kita seleksi lagi,” ungkap Prof. Dr. Hj. RR Dwi Sogi Sri Redjeki, SKG, M.Pd., Rektor Universitas Sari Mulia.
Selain penandatanganan nota kesepahaman, kegiatan juga dirangkai dengan kuliah umum yang memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai peluang, tantangan, serta prosedur aman bekerja di luar negeri. Melalui kolaborasi ini, pemerintah dan perguruan tinggi berharap semakin banyak lulusan Kalimantan Selatan yang mampu memanfaatkan peluang kerja global dengan bekal kompetensi dan keterampilan yang sesuai kebutuhan dunia kerja internasional.
Reporter: Evi Dwi Herliyanti





