Kenaikan Pertamax Berisiko Dorong Lonjakan Konsumsi Pertalite

Banjarmasin, Duta TV — Kenaikan harga Pertamax menjadi sekitar Rp17 ribu per liter dari sebelumnya berkisar Rp12.900 dinilai belum akan memberikan dampak langsung terhadap lonjakan harga barang dan jasa di pasaran.
Menurut Pakar Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, Profesor Handry Imansyah, pengguna Pertamax secara nasional hanya berkisar 10 hingga 15 persen dari total konsumsi bahan bakar minyak.
Karena itu, pengaruh kenaikan harga Pertamax terhadap inflasi dinilai relatif kecil dan terbatas. Meski demikian, selisih harga yang semakin lebar antara Pertamax dan Pertalite berpotensi mendorong sebagian konsumen beralih menggunakan BBM bersubsidi.
Apabila perpindahan konsumsi tersebut terjadi secara masif dan tidak diantisipasi dengan baik, permintaan Pertalite diperkirakan meningkat tajam. Dampaknya, risiko kelangkaan stok hingga antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar dapat terjadi.
Selain persoalan distribusi BBM, kenaikan harga bahan bakar dikhawatirkan dimanfaatkan oleh oknum pelaku usaha untuk menaikkan harga barang dan jasa, meskipun biaya produksi mereka tidak terdampak secara langsung.
Karena itu, pemerintah diminta memperkuat pengawasan pasar sekaligus menjaga stabilitas pasokan BBM bersubsidi agar tidak terjadi gejolak ekonomi yang merugikan masyarakat.
Reporter : Mawardi





