Jangan Tertipu Hidden Sugar yang Bisa Berujung Diabetes

Jakarta, DUTA TV – Banyak orang merasa sudah membatasi konsumsi gula, entah karena terbiasa memilih produk ‘less sugar’ atau no sugar.
Namun tanpa disadari, asupan gula harian justru bisa datang dari makanan dan minuman kemasan yang dikonsumsi setiap hari.
Dikenal dengan ‘hidden sugar’ atau gula tersembunyi, kandungannya kerap tidak disadari karena muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari sukrosa, fruktosa, sirup jagung, hingga pemanis lain yang sebetulnya tercantum pada label kemasan.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan pemerintah sudah mewajibkan pencantuman informasi kandungan gizi pada produk pangan kemasan yang mengantongi izin edar. Sayangnya, masyarakat belum terbiasa membaca label tersebut.
“Sebetulnya yang berhubungan dengan kandungan nutrisi sudah diputuskan sejak 2019. Sekarang makanan kemasan sudah ada keterangannya, hanya masyarakat kita belum terbiasa membaca kandungan itu,” kata Taruna pekan lalu.
Hal ini yang juga diamini Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Mufti Mubarok.
Menurutnya, masyarakat kerap sulit membedakan istilah-istilah yang digunakan pada kemasan pangan.
Berbagai klaim seperti ‘less sugar’, ‘low sugar’ yang mengaburkan kandungan gula sebenarnya, mengecoh konsumen untuk menganggap produk tersebut benar-benar rendah gula.
“Dari kacamata konsumen, istilah-istilah itu cukup menyulitkan. Bagi kami masih seperti jebakan Batman. Lebih mudah kalau menggunakan warna-warna yang jelas daripada istilah yang membingungkan,” katanya, dalam kesempatan yang sama.
Ia mencontohkan konsumen sering kali terkecoh dengan berbagai klaim pemasaran yang terdengar sehat, padahal kandungan gula, garam, atau lemaknya masih tinggi.
Karenanya, pemerintah tengah merampungkan kebijakan Nutri Level yang saat ini sudah berlaku di pangan siap saji serta menyusul untuk pangan olahan.
Label yang menunjukkan tingkatan tinggi gula, garam, lemak, berdasarkan warna dinilai lebih mudah untuk mengkomunikasikan edukasi gizi di masyarakat umum.
“Kalau hijau tentu lebih sehat. Kalau sudah kuning perlu hati-hati. Jadi masyarakat tidak perlu membaca informasi yang terlalu rumit, cukup melihat label sederhananya,” ujar Taruna.
Health Communicator Kalbe Nutritionals, dr Laurencia Ardi, MGizi, AIFO-K, mengatakan anjuran konsumsi gula harian untuk orang dewasa pada dasarnya sama, yakni sekitar 50 gram atau setara 4 hingga 5 sendok makan per hari.
Masalahnya, banyak orang tidak menyadari jumlah gula yang masuk dari makanan dan minuman kemasan.
“Yang jadi masalah adalah masyarakat Indonesia masih rendah kesadarannya untuk melihat nutrition facts. Padahal di situ sudah tercantum apa saja yang masuk ke tubuh kita,” ujarnya.(dtk)





