“CERITA KAIL KAKEK ?”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, kalau tulisan sebelumnya saya membicarakan pelajaran hidup dari nini (nenek) yang sempat lama hidup bersama beliau, kali ini ijinkan saya bercerita tentang “kai” atau kakek yang sebenarnya tidak lama hidup dengan beliau, karena beliau meninggal saat saya masih kecil.  Ada beberapa moment berharga saat bersama beliau yang mempengaruhi pemikiran dan jalan hidup saya, moment itu adalah saat beliau mengajari memancing ikan disungai, kakek termasuk jago memancing dan cepat sekali mendapatkan ikan yang dipancing, apa rahasianya ???

Sahabat ! di masa saya sering memancing ikan, setelah memasak nasi dan mengambil sayuran yang ditanam mamarina atau angah (paman) dibelakang rumah saya juga langsung memancing ikan di sungai kecil atau di sawah, begitu pula pada waktu senggang saat dewasa dulu kalau ada kesibukan politik masyarakat, saya justeru menggunakan waktu itu untuk memancing ikan (ikan pepuyu)  yang dalam bahasa banjar disebut “maunjun iwak” dan karena dilakukan beberapa orang (termasuk kolega dosen saat itu) kelompok pangail ikan ini biasa disebut “paunjunan”.

Sahabat ! “Coba perhatikan kakek mengail ikan, dari proses mempersiapkan kail, kawat dan umpannya kata kakek saya”, serta merta saya perhatikan bagaimana kakek melakukan semua itu, dari sejak beliau mempersiapkan stik kail (tantaran unjun) kemudian membuat sendiri kawat pengait untuk umpannya dan sampai saat beliau melekatkan memilih atau membuat umpan serta melekatkan umpan pada kawat kail tersebut.

Sahabat ! mempersiapkan stik kail dari bambu kecil ternyata dilakukan dengan memperhatikan kelenturan bambu kecil tersebut, kata beliu “stik kail harus mempunyai kelenturan” agar saat menarik ikan yang memakan umpan tidak lepas, baik karena kekuatan waktu menarik menjadikan bibir ikan robek atau terlalu lentur yang menyebabkab ikan tidak melekat pada kawat kail. Kelenturan stik kail ini saya gunakan dalam suatu mediasi penyelesaian kasus hukum, saya menyebutkan sebagai “prinsip fleksibilitas”, dengan prinsip ini mereka yang bersengketa saya ajak untuk tidak kaku memegang tuntutan mereka, melainkan saling memahami akan kekuatan dan kelemahan masing-masing dan mengarahkan agar mendapatkan hasil dari proses penyelesaian tersebut untuk kepentingan terbaik mereka sendiri saat ini dan untuk hubungan dimasa depan, sehingga dengan keasadaran prinsip fliksibilitas inilah akan mengantarkan mereka kepada penyelesaian yang bersifat “win-win solution”.

Sahabat ! saat kakek mempersiapkan kawat kail, beliau mengatakan kawat kail dibuat disesuaikan antara besar kawat dan besaran lingkaran kawat dengan jenis dan besaran ikan yang akan dikail, artinya kalau kawatnya kecil, maka ditujukan untuk ikan yang kecil dan kalau besar maka ditujukan untuk ikan yang besar. Prinsip ini saya sebut sebagai prinsip kesesuaian antara alat dengan tujuan, apabila kita mengharapkan suatu hasil tertentu, maka alatnya harus sesuai dengan hasil yang kita pakai, dalam makna yang luas prinsip ini saya padankan dengan konsep usaha dan hasil atau effort dan result.  Artinya kalau kita mengharapkan hasil yang banyak atau target yang besar, maka usaha yang kita lakukan juga usaha yang banyak atau tindakan yang besar, karena manakala kita menginginkan sesuatu yang luar biasa, maka usaha kitapun harus juga luar biasa, apabila suatu tujuan yang besar hanya dilakukan dengan usaha yang seadanya, maka tujuan itu tidak lebih dari sekedar mimpi.

Sahabat ! umpan dibuat dan dilekatkan ke kawat dibuat sendiri oleh beliau dengan memperhatikan kegemaran ikan yang dipancing menurut versi beliau, sehingga coba cari dan buat umpan yang paling digemari oleh ikan tersebut, bukankah seperti kita juga akan memakan apa yang kita sukai. Saya menyebut apa yang dilakukan oleh kakek ini sebagai “emphatic”, yaitu suatu sikap MENCOBA MERASAKAN YANG ORANG LAIN RASAKAN, dengan demikian kita bisa memahami apa yang sesungguhnya diinginkan atau diperlukan oleh orang lain. Ada banyak cerita kehidupan yang bisa didekati dengan sikap emphatic ini, jangan mencubit orang lain kalau kita juga sakit karena dicubit, hormatilah orang lain kalau kita juga mau dihormati, jujurlah pada orang lain kalau kita juga tidak mau dicurangi, sayangilah orang lain kalau kita juga mau disayangi, dan seterusnya.

Sahabat ! begitulak kakek saya mengajari memancing ikan dan kalau kakek memancing ikan hasilnya selalu banyak ikan yang beliau dapatkan, dan ternyata sungguh pelajaran memancing itu tidak saja berguna bagi kita yang mau memancing ikan, akan tetapi juga sangat berguna dalam mengemban dunia profesional dan kearifan dalam menjalani kehidupan. Terimakasih kakek, hari ini cucu kakek sudah relatif banyak memperoleh anugerah kehidupan berkat kail kakek tersebut.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia

Dr. Syaifudin

Dewan Redaksi Duta TV

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *