“CAHAYA KEJUJURAN DAN API DUSTA ???”

BANJARMASIN-DUTATV. Sahabat Secangkir Kopi Seribu Inspirasi, “mulutmu harimau mu” sudah lama istilah ini saya kenal dalam dunia public speaking, kemudian sejak era media sosial saya memperluas cakupannya ke tulisan “tanganmu adalah cakarmu”, yang keduanya menggambarkan bahwa kita harus hati-hati dalam berbicara dan menulis sesuatu, karena kalau yang kita katakan dan atau tulis salah serta menshare yang tidak benar, maka akan membuat celaka bagi orang lain dan diri kita sendiri, disamping akan menggambarkan atau merefleksikan siapa kita sebenarnya dari ucapan dan tulisan serta share kita tersebut.

Sahabat ! pagi subuh ini kembali saya tersentak dan tersadarkan kembali akan dua istilah di atas, karena ustad Firdaus (Pimpinan Taman Cinta Alqur’an) dalam tausiah ba’da sholat subuh di Mushola Miftahul Jannah membahas masalah kejujuran, suatu nilai-nilai yang sangat mulia bahkan menempati urutan pertama dari sifat Rasulullah yaitu “as sidiq” yang berarti “jujur” dan dampak dari sifat inilah beliau disebut “Al-Amin” atau orang yang penuh amanah, jujur dan dapat dipercaya.

Sahabat ! sayapun teringat pula suatu survey tentang “The Millionaire Mind” terhadap dua ratus ribu orang kaya yang dilakukan oleh Thomas Stanley tahun 2006, yang menyebutkan  “Diantara Kunci sukses mereka adalah punya integritas, satunya kata dengan perbuatan, janjinya tepat dan dapat dipercaya, jika diberikan amanah selalu ditepati, tidak hianat atau munafik, menjunjung etika dan moral, dan nilai-nilai agama. Disiplin waktu, aktivitas yang teratur, makan, rekreasi, ibadah secara teratur, tidak serakah atau rakus”.

Berita Lainnya

Sahabat ! jujur itu adalah  cahaya yang memancar dari mulut saat berkata, terpancar dari perilaku orang dalam berbuat yang membawa kesejukan dan kedamaian dalam kehidupan, sedangkan dusta itu adalah api yang keluar dari mulut saat ia berkata sehingga “membakar” orang yang berada disekitarnya, ia juga berwujud perilaku munafik yang tak lebih dari sekedar pencitraan diri yang menipu orang.

Sahabat ! sesungguhnya mudah bagi kita untuk melihat mana suatu kejujuran dan mana suatu dusta atau kebohongan, jujur berarti terilhat dalam setiap ucapannya membawa kesejukan, ketenteraman dan kedamaian hidup serta serasi antara ucapan dan tindakannya. Sedangkan kebohongan terlihat dari ucapannya yang kasar, menghujat, menfitnah, caci maki dan kalaupun berucap baik itu sekedar dibibir saja, dalam tindakannya baiknya hanya pencitraan dan perilakunya licik dan menyakitkan, dampaknya tidak membawa kepada kedamaian, ketenteraman  dan kebahagiaan hidup.

Sahabat ! sudah saatnya dibulan ramadhan ini kita merenungkan kembali makna kejujuran dalam kehidupan kita masing-masing, sudahkah kita jujur dengan sahabat, kolega dan keluarga kita dalam hubungan pribadi dan sosial ? kalau masih terdapat ketidak jujuran saatnya kita perbaiki dibulan penuh rahmat ini.  Begitupula kita menanyakan sudah jujurkan kita terhadap Yang Maha Kuasa (Allah) yang menciptakan dan memberi kehidupan kepada kita, seperti jujurkah kita dalam beribadah yang semata mata hanya kita peruntukan untuk Nya (ihklas), jujurkan kita akan puasa kita, sholat kita, zakat kita, infaq kita, haji kita dan seterusnya.  Kalau kita merasa belum sepenuhnya jujur atau ikhlas kepadanya, mari kita berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkannya sembari berdoa agar kita selalu diberiNya kekuatan untuk itu.

Sahabat ! dibulan ramadhan ini sangat tepat kalau kita melakukan proses menambah kualitas kejujuran, karena dalam ibadah puasa diajarkan nilai-nilai kejujuran tersebut, bukankah diserahkan sepenuhnya kepada kita untuk jujur atau tidak dalam menjalankan puasa tersebut dan hanya kita dan Allah saja yang tahu apakah sesungguhnya kita menjalankan puasa atau tidak puasa tersebut.  Dihadapan manusia kita bisa mengatakan puasa, tapi diri kita dan Allah tahu apakah sesungguhnya kita ini puasa atau tidak.

“Cahaya itu adalah kejujuran

Lembut terasa menerpa damainya hidup

Api itu adalah kebohongan

Panasnya membakar semua kebaikan

Jujur itu adalah ciri penghuni  surga

Sedangkan bohong itu ciri penghuni Negara”

Terimakasih ustad Firdaus atas inspirasinya.

Salam Secangkir Kopi Seribu Inspirasi.

#Semakintuasemakinbijaksana

#semakintuasemakinbahagia

Dr. Syaifudin

Dewan Redaksi Duta TV

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *