Tradisi Sembahyang Tuhan, Ungkapan Rasa Syukur dan Refleksi Diri

Banjarmasin, DUTA TV — Suasana khidmat terasa saat prosesi sembahyang Tuhan di Klenteng Soetji Nurani dimulai, Selasa malam (24/02/2026).

Dengan latar klenteng bernuansa merah dan emas, umat duduk berderet rapi di atas bantalan.

Sebagian mengenakan busana abu-abu khas Rohaniawan, sementara lainnya tampil sopan dengan pakaian bernuansa cerah.

Di bagian depan, altar dipenuhi berbagai persembahan buah-buahan, kue, serta aneka hidangan ditata rapi sebagai simbol rasa hormat dan syukur.

Ritual diawali doa, denting lonceng dan tabuhan perlahan mengiringi jalannya ibadah, menambah suasana sakral. Umat kemudian mengangkat hio tinggi-tinggi sebelum bersujud dalam keheningan.

Wakil Ketua Pengurus Klenteng Soetji Nurani, Djohan Jawonoe, mengatakan sembahyang ini menjadi momentum penting pasca perayaan Imlek. Menurutnya, ritual tersebut bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi juga sarana refleksi spiritual. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak ada yang kekal sehingga manusia perlu senantiasa berserah diri kepada Sang Pencipta.

“Ini sebagai ungkapan rasa syukur sudah bisa melewati tahun lalu dan menyambut energi positif di Tahun Kuda Api ini,” ujarnya.

Sementara itu, Komda Perhimpunan Tempat Ibadah Tri Dharma Kalimantan Selatan, Herman Chandra, menyebut sembahyang malam itu sebagai doa bersama untuk kesehatan dan kelancaran rezeki keluarga.

“Kami meminta warga-warga masyarakat sehat semua, pekerjaan lancar,” ungkapnya.

Sembahyang Tuhan yang dilaksanakan pada hari kesembilan bulan pertama kalender Imlek ini menjadi salah satu ritual sakral umat Tridharma. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada Tuhan, prosesi tersebut juga diyakini membawa perlindungan dan kemakmuran bagi umat serta masyarakat luas.

Reporter: Nina Megasari

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *