Sunda Punya ‘Ngabuburit’, Banjar Punya ‘Basambang’

Istilah ‘ngabuburit’ sudah tren dan banyak digunakan oleh masyarakat. ‘Ngabuburit’ yang berasal dari kata ‘burit’ yang berarti “waktu menjelang senja” mengandung makna “menunggu atau menghabiskan waktu hingga menjelang waktu Adzan Maghrib datang”.

Kata ini sering digunakan oleh masyarakat Jawa Barat yang pada bulan Ramadhan lagi ramai – ramai menunggu bedhug Maghrib. Sesenanrya kapan mulai populer ? Tidak ada data yang pasti.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan sebuah kata atau istilah akan populer dan banyak digunakan oleh pemakai bahasa. Pertama, kata atau istilah itu mudah dilisankan dan mudah diingat. Kedua, makna kata atau istilah itu bersifat khusus dan hanya terdapat pada bahasa tersebut. Ketiga, kata atau istilah itu sering digunakan digunakan oleh tokoh atau publik figur di media massa.

Lihat Juga :  Kumpulkan Musisi dan Band Banua, SSB Gelar Ngabuburit Bersama

Urang Banua, khususnya di kalangan anak mudanya, juga ikut-ikutan menggunakan ‘ngabuburit’. Dalam beberapa kesempatan sepuluh tahun terakhir, kita sering menemukan dan mendengar ‘ngabuburit’ menjadi lebel acara dan diucapkan antar mereka ketika suasana bulan Ramadan. Tak salah memang. Namun, agak geli juga mendengarnya karena kata dasar ‘burit’ pada ‘ngabuburit’ dalam bahasa Banjar berarti “pantat”.

Lihat Juga :  Kumpulkan Musisi dan Band Banua, SSB Gelar Ngabuburit Bersama

Sebuah esai dari Zulfaisal Putera di harian lokal Banjarmasin menyebutkan hal ini. Ia melakukan eksplorasi, dari Kamus Bahasa Banjar dan dialog dengan beberapa teman, untuk mencari kosakata Banjar yang mempunyai konsep sama dan menjadi padanan ‘ngabuburit’.

Usulan itu mengerucut pada istilah yang sudah lama tak dipakai lagi dalam bahasa Banjar, yaitu ‘sambang simambang’ yang bermakna “menunggu langit warna jingga waktu senja”, yang dikemukakan Mukhlis Maman, praktisi seni tradisonal. Makna tersebut sepadan dengan konsep ‘ngabuburit’.

Lihat Juga :  Kumpulkan Musisi dan Band Banua, SSB Gelar Ngabuburit Bersama

Dari istilah ‘sambang simambang’ akhirnya menghadirkan kata ‘basambang’ atau ‘basasambang’ yang dianggap pas sebagai padanan ‘ngabuburit’. ‘Basambang’ yang dibentuk dari ‘sambang’ mendapat prefiks ‘ba-‘ bermakna “melakukan kegiatan menunggu sesuatu yang bakal datang”. Kata fleksibel penggunaannya, tetapi dalam konteks mencari padanan ‘ngabuburit’, maka makna ‘basambang’ bisa disempitkan “menunggu waktu senja atau bedug berbuka puasa”. (ey)

Follow Me:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *