Simak Warisan Panjang Karya Guruh Soekarnoputra Sebelum Meninggal Dunia

Jakarta, DUTA TV – Seniman sekaligus politikus Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026. Guruh Soekarnoputra mengembuskan napas terakhir pukul 04.16 WIB di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta.

Kabar duka tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melalui pesan kepada jajaran partai. “Telah berpulang ke Rahmatullah Almarhum Bapak Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra Bin Sukarno pada usia 73 Tahun,” kata Hasto dalam keterangan tertulis, Sabtu, 26 September 2026.

PDI Perjuangan kemudian meminta seluruh jajaran partai mengibarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.

Pengibaran tersebut berlaku mulai tingkat DPP, DPD, DPC, PAC, ranting, hingga anak ranting.

Guruh meninggalkan perjalanan panjang sebagai seniman yang berkarya melalui musik, tari, pertunjukan, dan perfilman. Ia juga pernah menjalani enam periode sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953, Guruh merupakan anak bungsu Soekarno dan Fatmawati. Ia memiliki empat kakak, yakni Guntur, Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati Soekarnoputri.

Sejak kecil, Guruh sudah menunjukkan ketertarikannya terhadap kesenian yang kemudian menjadi bagian penting kehidupannya.

Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat, Guruh mulai mempelajari tari Jawa, Sunda, dan Bali ketika berusia sekitar lima tahun.

Pada usia yang sama, Guruh juga mulai belajar piano dan membentuk kelompok musik bernama Band Bocah.

Minat bermusiknya terus berkembang hingga remaja dengan membentuk kelompok The Beat-G pada 1965.

Perjalanan musik Guruh berlanjut ketika ia membentuk The Flower Poetman pada 1970. Beberapa tahun kemudian, ia menggarap album “Guruh Gipsy” bersama sejumlah musisi ternama Indonesia.

Album tersebut memadukan unsur musik tradisional Nusantara dengan aransemen musik Barat. Karya itu melibatkan Keenan Nasution, Chrisye, Roni Harahap, Oding Nasution, dan Abadi Soesman.

Selain “Guruh Gipsy”, Guruh menghasilkan sejumlah lagu yang kemudian dikenal luas masyarakat Indonesia. Beberapa di antaranya yakni “Renjana”, “Galih dan Ratna”, “Gita Cinta”, “Anak Jalanan”, serta “Lenggang Puspita”.

Kiprah Guruh kemudian berkembang dari musik menuju seni pertunjukan yang melibatkan koreografi dan produksi panggung. Pada 1977, ia mendirikan Swara Mahardhika sebagai wadah pengembangan kreativitas seni.

Swara Mahardhika kemudian berkembang menjadi Yayasan Swara Mahardhika pada 1987. Dua tahun berselang, Guruh mendirikan PT Gencar Semarak Perkasa untuk mendukung berbagai kegiatan produksi seni.

Pada 1987, Guruh kembali menghadirkan pertunjukan kolosal “Jak Jak Jak Jakarta” untuk memperingati ulang tahun Jakarta. Pada tahun yang sama, ia juga menggelar “Gempita Swara Mahardhika” untuk memperingati satu dekade Swara Mahardhika.

Guruh juga berkontribusi dalam perfilman nasional melalui perannya sebagai penata musik sejumlah film. Beberapa film yang melibatkan Guruh antara lain “Ali Topan Anak Jalanan”, “Gita Cinta dari SMA”, dan “Puspa Indah Taman Hati”.

Perjalanan berkesenian Guruh turut menghasilkan sejumlah penghargaan dari berbagai ajang seni dan musik. Pada Festival Film Indonesia 1978, ia memperoleh penghargaan Musik Terbaik II melalui film “Ali Topan Anak Jalanan”.

Guruh juga meraih Kawakami Award dan Audience Selections Award melalui World Popular Song Festival di Tokyo. Penghargaan lain diterimanya dari Pemerintah Perancis berupa Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres pada 1991.

Pada Anugerah Musik Indonesia 1998, Guruh meraih penghargaan Pencipta Lagu Pop Terbaik melalui lagu “Kala Cinta Menggoda”. Ia kemudian memperoleh Lifetime Achievement Award Anugerah Musik Indonesia pada 2010 serta NBMI pada 2011.

Di tengah perjalanan panjangnya sebagai seniman, Guruh juga memasuki dunia politik melalui PDI Perjuangan. Ia tercatat menjadi anggota DPR RI selama enam periode sejak 1992 hingga 2024.

Selama berada di parlemen, Guruh beberapa kali mewakili daerah pemilihan di Jawa Timur. Latar belakangnya sebagai seniman turut membuat persoalan kesenian menjadi salah satu perhatian selama menjalankan tugasnya.

Guruh Soekarnoputra meninggalkan perjalanan panjang sebagai seniman yang aktif berkarya dalam berbagai bidang. Kiprahnya mempertemukan musik, tari, pertunjukan, perfilman, dan kebudayaan dengan dunia politik.

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *