Reses DPRD Kalsel, Warga Sungai Pantai Desak Pengerukan Sungai

Barito Kuala, DUTA TV Warga Desa Sungai Pantai Kecamatan Rantau Badauh Barito Kuala menyampaikan sejumlah keluhan terkait persoalan pintu air dan dampak perubahan lingkungan saat reses Anggota DPRD Kalsel, Haji Jahrian. Permasalahan yang dikeluhkan itu sudah berlangsung cukup lama dan berdampak pada kehidupan masyarakat di beberapa wilayah.

Kepala Desa Sungai Pantai, Fauzi, mengatakan persoalan pintu air yang digunakan untuk pemompaan air merupakan bagian dari perencanaan beberapa tahun lalu. Bahkan, rencana pembangunan embung di kawasan tersebut juga telah disusun oleh konsultan sejak lama.

Namun demikian, Fauzi menilai kondisi alam saat ini telah banyak mengalami perubahan. Perubahan alam secara perlahan berdampak langsung pada masyarakat, terutama di dua kecamatan, yakni Mandastana dan Jejangkit, serta Desa Sungai Pantai yang ada di Rantau Badauh. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengganggu hubungan antar desa jika tidak segera ditangani.

“Ya, pintu air kalau untuk pemompaan itu dari perencanaan beberapa tahun yang lalu yang akan datang dibikin embung itu sudah dari perencanaan konsultan yang dulu. Kita tahu kan situasi alam kita ini sudah mulai menyusut terus, perubahan alam berpengaruh ke dampak lingkungan ke urang-urang yang ada, yang nyata di sini merugikan banyak pihak. Ada dua kecamatan Mandastana dan Jejangkit, kalau kita Rantau Badauh Desa Sungai Pantai aja imbasnya. Mudah-mudahan harapan kita ke depannya pemerintah daerah untuk segera menyikapi untuk kelancaran hubungan antar desa dan kesejahteraan masyarakat kita,” jelas Fauzi.

Sementara itu, Anggota DPRD Kalsel, Haji Jahrian, memastikan aspirasi masyarakat ditangani dengan tepat. Namun demikian, ia berharap agar desa-desa terkait juga menyetujui rencana pengerukan tersebut agar berjalan menyeluruh dan berkelanjutan.

“Tadi saya mendapatkan informasi yang sangat akurat dan bagus sekali. Saya mengusulkan kemarin saat rapat penanggulangan kebencanaan, saya mengharapkan adanya suatu kerukan yang sifatnya melintang dan tembusnya dari Jejangkit sampai Mandastana tembus ke alur Sungai Barito. Namun yang dikatakan warga dan kepala desa tidak seperti itu, malah lebih singkat kurang lebih 300 meter saja yang dilakukan pengerukan, maka air itu akan lancar dan turun. Tapi ada beberapa desa yang sifatnya belum berkoordinasi dengan kita untuk kelanjutan itu. Saya berusaha melakukan pendekatan itu kepada desa yang terkait nanti yang belum setuju untuk dikeruk,” ucap Haji Jahrian.

Dari reses ini, masyarakat Desa Sungai Pantai ingin aspirasi yang telah disampaikan sesegera mungkin ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah, khususnya Pemkab Batola. Pasalnya, pengerukan sungai dinilai menjadi solusi penting untuk mengatasi persoalan pintu air sekaligus menjaga keharmonisan antar desa.

Reporter: Tim Liputan

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *