Omzet Petani Sayuran dan Hortikultura Turun Drastis Akibat Kekeringan

Banjarbaru, Duta TV — Beginilah kondisi tanaman pepaya milik Sardani yang hangus beberapa waktu lalu karena kebakaran lahan menjalar ke area pertanian sayuran dan hortikultura yang berada di kawasan Loktabat Utara, Kecamatan Banjarbaru Utara ini. Lahan tanaman pepaya dan pisang seluas tiga borong milik Sardani hangus terbakar sehingga tak bisa dipanen.
Pada musim kemarau tahun ini, para petani juga dihadapkan dengan sulitnya sumber air untuk pengairan tanaman sayuran, yang terpaksa mengambil air dari sungai yang berjarak 350 meter dari kebun yang digarap. Dan untuk menyiram tanaman, mereka harus rela merogoh kocek lebih dalam untuk pembelian mesin pompa air atau alkon dan selang serta membeli bahan bakar Pertalite untuk bahan bakar alkon.
Menurut Sardani, akibat kekeringan berdampak terhadap pertanian sayuran dan hortikultura seperti mentimun, cabai, dan daun bawang yang mengalami penurunan produksi. Dengan rata-rata hasil panen sayuran dan hortikultura hanya 45 persen jika dibandingkan sebelum kekeringan melanda.
“Kekeringan sangat berdampak menurun hasilnya, untuk pengairan (terpaksa) mengambil air cukup jauh dari sungai, jarak 350 meter, biaya produksi bertambah, untuk membeli selang dan BBM Pertalite, hasil panen kalau kekeringan kaya ini paling 45 persen, harapan kalau bisa dibuatkan sumur bor,” tuturnya.
Ironisnya, para petani yang menjadi garda terdepan dalam program ketahanan pangan nasional, di saat dalam kondisi kekeringan justru sangat minim perhatian dari pemerintah. Mereka berharap kepada pemerintah dan instansi terkait agar membuatkan sumur bor untuk pasokan sumber air pertanian di saat terjadi kekeringan.
Reporter: Suhardadi





