Kritik ‘Deforestasi’ Lewat Karya Seni

Banjarmasin, Duta TV — Pameran seni bertema lingkungan digelar di Banjarmasin. Tak hanya menampilkan lukisan, pameran yang berlangsung pada 4 hingga 12 April 2026 juga menghadirkan instalasi visual yang menyampaikan pesan krisis lingkungan dengan cara berbeda.
Pameran bertajuk “Kompilasi Protes!!! Radikal Re-Aksi: Menenun Kolektif, Menantang Krisis” digelar di Bengkel Lukis Sholihin, Taman Budaya Banjarmasin.
Di salah satu sudut ruang pamer, tepatnya di sisi kiri pintu masuk, terdapat ruang khusus yang menampilkan instalasi visual dari XR Meratus.
Berbeda dengan ruang pamer pada umumnya, dinding ruang ini dipenuhi poster berwarna dengan berbagai pesan lingkungan.
Sementara lantai dan sudut ruang diisi beragam atribut aksi. Salah satu yang menarik perhatian adalah deretan boneka kecil yang disusun rapi di bagian bawah dinding.
Boneka-boneka tersebut menghadap langsung ke arah pengunjung, tepat di bawah poster bertuliskan “Stop Deforestasi, Lindungi Hutan, Lindungi Kami”.
Sejumlah pengunjung tampak berhenti dan mengamati instalasi tersebut sambil membaca pesan yang disampaikan.
Perwakilan XR Meratus, Wira Surya Wibawa, menjelaskan bahwa penggunaan boneka menjadi bagian dari pendekatan visual untuk menyuarakan isu lingkungan.
Wira menambahkan, penyampaian pesan tidak harus selalu melalui aksi massa di ruang publik. Benda sehari-hari seperti boneka, sepatu, hingga payung dapat menjadi simbol perlawanan.
“Boneka-boneka ini menggambarkan bahwa mainan pun ikut bersuara, ikut melakukan perlawanan bersama manusia. Aksi itu tidak harus selalu hadir, bisa juga diwakilkan oleh benda-benda di sekitar kita,” jelasnya.
Seluruh elemen dalam ruang ini, termasuk poster dan spanduk, menampilkan berbagai pesan. Hal itu menjadi alasan dipilihnya pameran sebagai ruang alternatif untuk menyampaikan pesan secara terbuka. Pameran ini menampilkan 16 karya dari 15 seniman dan berlangsung pada 4 hingga 12 April 2026, setiap hari mulai pukul dua siang hingga sembilan malam Waktu Indonesia Tengah.
Reporter: Nina Megasari





