Keluarga Korban Ambruknya Gedung Ponpes Al Khoziny Minta Proses Hukum Tetap Jalan

Sidoarjo, DUTA TV — Kecewa, marah dan kehilangan, hal itu lah yang dirasakan Fauzi (48).
Empat keponakannya menjadi korban ambruknya gedung Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur (Jatim).
Fauzi dan keluarganya berduka. Ia pun mengaku tidak bisa tinggal diam.
Dia menuntut agar kasus ini diusut tuntas dan pihak yang lalai dimintai pertanggungjawaban hukum.
“Kalau memang di situ ada human error atau kelalaian manusia dalam hal pembangunan, ya harus diproses. Penegakan hukum itu harus ditegakkan,” kata Fauzi, Selasa (7/10).
Ia menduga kondisi konstruksi gedung itu sebelum ambruk dinilainya memang sudah tak layak dan tidak memenuhi standar.
Tak hanya itu, Fauzi juga menyinggung soal adanya santri yang ikut bekerja saat proses pembangunan atau pengecoran gedung.
Hal itu, menurutnya, bisa mengarah pada bentuk dugaan eksploitasi anak.
“Santri pada saat itu dipekerjakan. Nanti bukan tidak mungkin ada eksploitasi anak di sana. APH (aparat penegak hukum) jangan berhenti di evakuasi saja, tapi juga proses hukumnya harus jalan,” tegasnya.
Oleh karena itu, dia meminta siapapun pihak yang bertanggung jawab pada kejadian ini agar diproses secara hukum. Baik itu dari pengasuh ponpes, pengurus, bahkan kiai sekalipun.
“Kita tidak memandang status sosial atau jabatan. Meskipun statusnya kiai, kalau memang bersalah ya harus diproses. Masa hukum kalah sama status sosial seseorang,” katanya.
Meski menerima bahwa musibah adalah bagian dari takdir, Fauzi menilai kelalaian manusia tetap harus diselesaikan secara hukum.
Sebab ia hanya ingin tragedi serupa tidak terulang dan kasus ini menjadi pelajaran bagi pesantren lainnya.
“Kalau masalah ikhlas, benar kita ikhlas, itu namanya takdir. Tapi kalau kelalaian, ya harus diproses. Hukum harus ditegakkan, supaya ke depan adik-adik kita bisa belajar dengan aman,” ujarnya.
Menurutnya sebagian wali santri enggan menuntut karena faktor budaya menghormati kiai.
Karena itu Fauzi juga meminta publik ikut mengawal jalannya proses hukum ini bersama.
Sedangkan pengasuh Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, KH Abdus Salam Mujib mengatakan kejadian yang menewaskan puluhan santri ini adalah takdir dari Tuhan.
Dia pun meminta semua pihak untuk bersabar.
“Ya saya kira ini takdir dari Allah, jadi semuanya harus bisa bersabar. Dan mudah-mudahan juga diberi diganti oleh Allah yang lebih baik,” kata Mujib ditemui di lokasi kejadian pada 29 September lalu.
Ia juga berharap luka dan duka yang dialami para korban ambruknya gedung itu digantikan dengan pahala oleh Allah.(cnni)





