Kadisdik Nilai Daftar Ulang SMAN 4 Banjarbaru Salah

DUTA TV BANJARBARU – Pada surat edaran selain wajib lunas iuran komite sekolah, point catatan dibawah surat edaran dinilai menjadi ancaman bagi peserta didik agar melunasi iuran komite dengan mengabaikan kondisi pandemi Covid-19.

Salah satu tokoh pemuda Banjarbaru Edy Saefuddin, menilai catatan itu sebagai ancaman dan menciderai dunia pendidikan, untuk memberantas kebodohan dan mengajak sebanyak-banyaknya anak-anak agar bersekolah. “Itu sama dengan ancaman dan menciderai dunia pendidikan,” kata Edy Saefuddin.

Edy Saefuddin tokoh pemuda Banjarbaru

Edy Saefuddin tokoh pemuda Banjarbaru

Senada dengan itu Kepala Dinas Pendidikan Kalsel Yusuf Effendi, langsung merespon kebijakan bawahannya yang dianggap salah dengan menekankan kewajiban membayar iuran, menurut Yusuf Effendi pihaknya segera menyikapi persoalan daftar ulang di SMAN 4 Banjarbaru, agar tidak ada siswa yang putus sekolah.

Baca Juga :  Komisi IV DPRD Kalsel Soroti Iuran SMAN 4 Banjarbaru

“Kebijakan itu salah dan tidak dibenarkan,” ucap Yusuf Effendi.

Kebijakan berbau ancaman  juga dinilai kurang tepat dan membuat sejumlah orang tua siswa SMAN 4 Banjarbaru, menjadi resah terutama yang kehilangan pekerjaan akibat terdampak Covid-19.

Reporter : Tarida Sitompul

 

  1. Seorang yang berakhlak says:

    Saya juga merasa hal ini sangat disayangkan. Mengapa pihak sekolah tidak memikirkan kondisi yang ada sekarang? Dengan adanya daftar ulang yang mewajibkan siswanya harus ke sekolah, dan jika tidak maka dianggap “mengundurkan diri” sama dengan memaksa seluruh siswa agar pergi ke sekolah di jam yang telah ditentukan hanya untuk daftar ulang (belum lagi kegiatan pengembalian buku dan menunjukkan iuran lunas), padahal ancaman corona sangat tajam di daerah ini. Apakah sekolah bisa mempertanggung jawabkan seandainya sepulang dari daftar ulang ada yang reaktif? Miris sekali. Apakah protokol kesehatan sudah mencukupi untuk berjalannya ini? Sebenarnya yang diherankan adalah untuk apa hal tersebut dilakukan? Apakah sekolah sekarang hanya bertanggung jawab untuk 1 tahun setiap pergantian atau kenaikan kelas? Dimana citra sekolah yang diagungkan menjadi tempat menimba ilmu? Apakah tidak bisa melalui media online hanya untuk “DAFTAR ULANG”. Bukankah teknologi sudah sangat begitu canggih sekarang? Seharusnya sekolah menengah atas menjadi CONTOH yang dapat diteladani untuk mengambil suatu tindakan yang bijak. Bukan malah mengambil keputusan yang sangat bodoh menurut saya hanya untuk terlihat memiliki “aktivitas”. Terima kasih.

  2. Ini sangat disayangkan seharusnya sekolah menjadi teladan yang baik, bukan mengambil hal bodoh seperti ini semata-mata untum terlihat beraktivitas saja. Banyak sekali media online yang bisa digunakan dan di manfaatkan di zaman yang canggih ini hanya untuk “Daftar Ulang”. Dimana citra sekolah? Apakah tidak memikirkan hal ini sangat tidak bertanggungjawab terhadap kesehatan? Kesannya disini sekolah hanya bertanggung jawab selama 1 tahun, sisanya jika tidak diurus kembali harus mengundurkan diri katanya. Sungguh miris. Protokol kesehatan yang ada pun terlihat belum memadai. Buruknya tingkat pengetahuan akan pandemi ini jelas terlihat pada sekolah ini. Tolong dinas pendidikan lebih tegas menyikapi ini. Karena kami sebagai keluarga siswa merasa hal ini sangat menyusahkan.

  3. Solusi nya hapuskan komite..
    Banyak anak putus sekolah di SMA krn takut dgn pungutan komite ini..
    Sebenarnya dana BOS ada gak sih?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *