Harga Avtur Mulai Turun, Bagaimana dengan Harga Tiket Pesawat ?

Jakarta, DUTA TV – Banyak masyarakat bertanya-tanya mengapa harga tiket pesawat terasa sulit kembali murah meski harga minyak dunia sudah mulai mereda.

Padahal, harga bahan bakar sering disebut sebagai salah satu faktor utama yang menentukan tarif penerbangan.

Jawabannya ternyata tidak sesederhana melihat naik-turunnya harga minyak mentah.

Dalam analisis McKinsey & Company yang dikutip pada Selasa (30/6/2026), harga bahan bakar pesawat atau jet fuel (avtur) dipengaruhi oleh rantai pasok yang jauh lebih kompleks.

Gangguan distribusi minyak dunia, kapasitas kilang, hingga konflik geopolitik dapat membuat harga avtur tetap tinggi meski tekanan pada harga minyak mulai berkurang.

Kondisi tersebut kembali terlihat setelah terganggunya lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.

Jalur pelayaran tersebut menjadi salah satu urat nadi distribusi energi dunia.

Gangguan terhadap arus kapal tanker bukan hanya mendorong kenaikan harga minyak mentah, tetapi juga mengganggu produksi bahan bakar pesawat yang menjadi kebutuhan utama industri penerbangan.

McKinsey mencatat kilang di Timur Tengah menghasilkan sekitar 14 persen avtur dunia. Sementara produsen avtur di Asia, seperti China, India, dan Korea Selatan, masih bergantung pada kawasan Timur Tengah untuk memenuhi lebih dari separuh kebutuhan minyak mentah mereka.

Akibatnya, ketika pasokan dari kawasan Teluk terganggu, efeknya langsung menjalar ke pasar avtur global.

“Harga avtur telah naik karena dua alasan. Pertama, harga minyak mentah telah naik. Kedua, pasokan bahan bakar jet terbatas karena penurunan produksi kilang dari eksportir bahan bakar jet utama di kawasan Teluk dan Asia,” tulis McKinsey.

Selama ini banyak orang menganggap harga tiket pesawat hanya mengikuti pergerakan harga minyak dunia.

Padahal yang lebih menentukan adalah harga avtur itu sendiri.

Harga avtur dapat naik lebih tinggi dibandingkan minyak mentah apabila pasokannya terbatas.

Fenomena tersebut tercermin dari meningkatnya jet fuel crack spread, yaitu selisih harga antara minyak mentah dengan bahan bakar pesawat hasil pengolahannya.

Artinya, sekalipun harga minyak tidak melonjak drastis, harga avtur masih dapat meningkat jauh lebih tinggi karena pasokan dari kilang tidak mampu mengejar permintaan.(kom)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *