Film Pirunduk Angkat Kearifan Lokal Banua dan Galang Donasi Korban Karhutla

Banjarmasin, Duta TV — Film Pirunduk ini hadir dengan mengangkat kisah legenda urban di Tanah Banjar, sekaligus menggambarkan kehidupan masyarakat lokal yang menjadi bagian dari identitas dan kekayaan budaya Banua.

Kekuatan film ini tak hanya terletak pada cerita, tetapi juga keterlibatan sumber daya manusia lokal dalam proses produksinya.

Produser Film Pirunduk, Budi Ismanto menyebut, sekitar sembilan puluh lima persen pemain film merupakan putra-putri asli Banua, sementara enam puluh persen kru juga berasal dari Kalimantan Selatan. Seluruh lokasi pengambilan gambar pun berada di Tanah Banjar.

Film ini dibintangi aktor Bucek Deep dan aktris Aulia Sarah, serta sejumlah pemeran lainnya, termasuk aktris asal Banjarmasin Yoriko Angeline.

Tak hanya mengangkat cerita dan potensi insan kreatif daerah, gala premiere Film Pirunduk juga diwarnai aksi sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap bencana karhutla dan kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan.

Tim produksi menggalang donasi melalui platform Kitabisa, dengan Pentana Studio memberikan donasi untuk masyarakat terdampak.

Langkah ini menjadi wujud solidaritas insan perfilman terhadap masyarakat yang terdampak karhutla, sekaligus mengajak masyarakat untuk saling membantu dalam menghadapi bencana.

“Jadi Film Pirunduk ini adalah sebuah film yang menurut saya kebanggaan masyarakat Kalimantan Selatan. Satu, ceritanya mengangkat kisah yang menjadi legenda urban di Tanah Banjar. Kemudian hampir sembilan puluh lima persen pemainnya adalah asli orang Banjar, krunya enam puluh persen asli orang Banjar, dan lokasi syutingnya semuanya di Tanah Banjar. Jadi ini benar-benar film orang Banua. Kemudian di dalam acara ini, kami dari semua pemain, kru, dan eksekutif Film Pirunduk juga menyampaikan rasa keprihatinan terhadap kondisi tanah kelahiran kita di Kalimantan yang terkena bencana kabut asap. Jadi dalam rangkaian acara ini, kami juga melakukan kegiatan sosial yang mudah-mudahan bisa membantu dan menggugah kita bersama-sama untuk mengatasi bencana kabut asap ini,” ujar Budi Ismanto.

Melalui Film Pirunduk, Budi Ismanto berharap masyarakat Banua tak hanya mendukung karya perfilman lokal, tetapi juga turut memajukan industri kreatif daerah.

Gala premiere ini pun menjadi momentum untuk menegaskan bahwa film dapat menjadi sarana pelestarian cerita dan identitas lokal, sekaligus ruang untuk menumbuhkan kepedulian sosial.

Dengan mengangkat legenda urban Tanah Banjar, melibatkan insan kreatif lokal, dan menggalang donasi bagi korban karhutla, Film Pirunduk diharapkan mampu menjadi kebanggaan masyarakat Banua, baik dari sisi budaya maupun kemanusiaan.

Reporter: Nina Megasari

Nayla Sofia

Uploader

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *