Dukung Diversifikasi Pangan, Pedagang Singkong Merekah & Tahu Lumer Belum Dapat Perhatian Optimal

BANJARMASIN, DUTA TV — Pedagang singkong merekah dan tahu lumer di Banjarmasin ini merupakan salah satu contoh pedagang yang mendukung diversifikasi pangan.

Diversifikasi pangan adalah program pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu jenis sumber pangan, khususnya beras.

Dengan memanfaatkan bahan baku lokal yang mudah didapat, pedagang ini berhasil meningkatkan pendapatannya.

Dalam sehari, Sugianoor, pemilik usaha Singkong Merekah Banjar ini, mengaku menghabiskan 70 kilogram singkong, itu pun hanya untuk satu cabang. Pasalnya, sejak memulai usahanya tiga tahun silam, kini Sugianoor memiliki lima cabang rombong Singkong Merekah Banjar yang seluruhnya ia kelola bersama saudara-saudaranya.

Hal itu lantaran tingginya antusiasme masyarakat yang tertarik dengan singkong merekah olahannya, empuk, besar, dan tanpa pengawet.

Singkong sendiri merupakan sumber karbohidrat yang baik dan dapat digunakan sebagai bahan makanan pokok alternatif selain beras. Kelebihannya, tahan terhadap kekeringan dan dapat tumbuh di lahan yang kurang subur, sehingga jika musim kemarau dan produksi beras menurun, singkong bisa menjadi alternatif pangan pokok yang sehat.

Singkong juga merupakan salah satu komoditas pangan yang penting di Indonesia dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sumber pangan alternatif, seperti salah satunya singkong merekah yang diolah dengan rasa yang enak dan tampilan menarik ini.

Hanya saja, hingga kini belum ada perhatian optimal dari pemerintah untuk memasarkan singkong merekah ini lebih luas di Kalimantan Selatan.

Padahal, Bank Indonesia berharap ada peran dari semua pihak untuk mendukung diversifikasi pangan ini. Karena bukan hanya mengurangi ketergantungan pada satu jenis pangan saja, namun program ini mampu mensejahterakan seluruh lapisan masyarakat, baik itu petani, pedagang lokal, dan konsumen.

“Bahan bakunya mudah didapat, terus ya namanya kerjaan semuanya capek ya, mungkin rezeki kita di situ. Alhamdulillah agak lumayan tinggi. Kalau satu cabang minimal bisa 70 kilo, satu cabang sekarang ada 5 cabang, semua di Banjarmasin. Kalau dari awal modal sendiri, kita belum ada tersentuh dari pihak lain untuk kita pribadi. Karena kalau minta itu tidak tahu ke depannya bagaimana. Kalau bisa berdiri sendiri ya sendiri, tapi kalau ada dari pemerintah bisa aja,” ucap Sugianoor, Pemilik Usaha Singkong Merekah Banjar & Tahu Lumer.

Fadjar Majardi, Kepala Bank Indonesia Kalimantan Selatan, menyampaikan bahwa Bank Indonesia mengajak media terus sosialisasikan diversifikasi pangan

“Bank Indonesia ajak media terus sosialisasikan diversifikasi pangan. Untuk merubah itu tidak bisa hanya dengan omongan, berita di media. Ini harus ada praktik-praktik yang harus dijalankan, karena itu merubah budaya. Sehingga perlu perjalanan panjang dan konsisten. Jadi tantangan teman-teman tidak bisa hanya sekali dua diberitakan, tapi terus menerus disosialisasikan agar manusia aware,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan Kalimantan Selatan, Ahmad Bagiawan, mengakui pihaknya memberikan dukungan penuh terhadap program diversifikasi pangan, khususnya dalam hal pemasaran. Namun masih terkendala anggaran. Di tahun depan, pihaknya akan menganggarkan secara maksimal karena program ini juga menjadi keinginan besar Gubernur Kalsel dalam hal mendukung UMKM.

“Di kegiatan kami itu belum optimal, hanya beberapa kali dalam setahun. Sehingga kami merasakan rasa belum optimal. Tentu harapan kami Pak Gubernur dan DPRD, badan anggarannya juga mensupport ini. Karena Pak Gubernur bertekad mendorong UMKM ini melalui perdagangan. Kita tunjukkan upaya kita, sehingga support atau dukungan dari pemerintah atau dari dewan, nanti tahun depan akan ditambah anggaran di perdagangan,” tuturnya.

Selain untuk mengurangi ketergantungan dengan satu jenis pangan, diversifikasi pangan juga dapat membantu meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mengurangi masalah kesehatan terkait dengan konsumsi pangan yang tidak seimbang. Diversifikasi pangan yang merupakan program Presiden ini adalah upaya berkelanjutan yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk mencapai tujuan ketahanan pangan nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *