Banyak Dealer Mobil Jepang Tutup, Pemerintahpun Diminta Turun Tangan

Jakarta, DUTA TV — Fenomena tutupnya sejumlah dealer mobil merek Jepang di Indonesia menjadi sinyal kuat terjadinya pergeseran besar di industri otomotif nasional.
Pemerintah diminta turun tangan untuk menjaga iklim usaha yang kompetisinya terekam makin ketat.
Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai regulasi pendukung mungkin diperlukan untuk mencegah kejadian sama terulang.
“Pemerintah harus memberikan perhatian utama pada harmonisasi regulasi lintas kementerian agar semua regulasi bisa saling bersinergi dan tidak menimbulkan ketidak pastian usaha,” kata Yannes melalui pesan singkat, Jumat (17/4).
Upaya lain yang harus dilakukan adalah reformasi TKDN dengan iringan insentif bagi perusahaan yang benar-benar mentransfer teknologi dan menciptakan lapangan kerja.
“Kemudian pemerintah juga perlu menjaga stabilitas suku bunga dan daya beli masyarakat agar pasar otomotif tidak terus tertekan oleh inflasi pangan dan pelemahan kelas menengah,” kata Yannes.
Ia menilai, gelombang penutupan dealer Jepang tidak bisa dilepaskan dari perubahan lanskap industri yang sangat cepat, terutama di segmen kendaraan elektrifikasi.
“Tampaknya fenomena banyak dealer mobil Jepang tutup dan digantikan oleh merek China adalah sinyal kuat pergeseran pasar yang cepat akibat perubahan cepat regulasi dan persaingan harga ya,” kata dia.
Menurutnya mobil Jepang yang selama ini dominan telah menghadapi tekanan dari produk China karena lebih terjangkau, desain modern, hingga padat fitur.
Belum lagi semua produk China rata-rata menyuguhkan teknologi ramah lingkungan terutama murni listrik yang kini sedang tren di kalangan masyarakat.
“Perubahan regulasi mendadak juga meningkatkan biaya compliance sehingga dealer Jepang kehilangan margin dan konsumen beralih ke merek China yang lebih agresif ya,” ujarnya.
Di sisi lain, lanjut Yannes, produsen Jepang dinilai perlu melakukan penyesuaian strategi agar tetap relevan di pasar Indonesia yang kian kompetitif. Salah satunya melalui restrukturisasi kerja sama dengan dealer serta penguatan layanan purnajual.
Ia juga menyarankan agar pabrikan Jepang menghadirkan EV lokal terjangkau agar bisa bersaing sehat dengan pabrikan China.
Merek mobil asal Jepang, Honda, sebelumnya ramai diberitakan menutup sejumlah dealer di Indonesia. Hal ini telah kejadian sejak pertengahan 2025, di mana dealer Honda tutup dan dugaannya beralih fungsi untuk melayani konsumen dari merek mobil China.(cnni)





