AJI-IJTI Desak Danlanud Cabut Pernyataan ‘Wartawan Ditunggangi Teroris’

DUTA TV – Pernyataan Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Haluoleo Kolonel Pnb Muzafar yang mengkhawatirkan wartawan ditunggangi teroris saat liputan kedatangan tenaga kerja asing (TKA) China dinilai bisa membahayakan profesi jurnalis.
Dua organisasi wartawan yang berada di wilayah itu, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kendari dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sulawesi Tenggara pun mendesak perwira menengah TNI itu mencabut pernyataannya. Mereka juga mendesak Mabes TNI untuk memberi sanksi kepada Danlanud Haluoleo Kolonel Pnb Muzafar.
“Kami mendesak agar Danlanud Haluoleo untuk mencabut pernyataannya karena anggapan ditunggangi teroris bisa mengancam jurnalis saat bertugas di lapangan,” kata ujar Ketua IJTI Sultra, Asdar Zuula.
Asdar Zuula menyebut setiap jurnalis dalam melakukan liputan selalu menaati protokol, termasuk di lingkungan TNI AU. Ia mencontohkan protokol standar yakni memperlihatkan identitas diri ke pos jaga Lanud Haluoleo serta menjelaskan maksud kedatangan jurnalis.
“Wartawan dalam menjalankan tugasnya dilindungi UU Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers, karena itu menghalangi kerja wartawan berarti melanggar UU. Meminta kepada seluruh jurnalis dalam melakukan peliputan mematuhi UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalis,” ujar Asdar.

Sementara itu, Ketua AJI Kendari Zainal A Ishaq menyatakan pernyataan Danlanud Haluoleo itu tidak berdasar dan berbahaya bagi para wartawan.
“Kami mengetahui bahwa daerah sekitar Bandara Haluoleo itu instalasi militer, dan juga memahami kekhawatiran Danlanud Haluoleo. Akan tetapi pernyataan tersebut juga tidak berdasar dan berbahaya,” kata Zainal dalam keterangan resminya.
Menurut Zainal, seharusnya Danlanud Haluoleo menyertakan bukti dan fakta atas kekhawatirannya terhadap jurnalis yang ditunggangi teroris.
Untuk diketahui, Danlanud melarang para wartawan datang meliput kedatangan gelombang ketiga ratusan TKA China di Bandara Haluoleo hari ini.
Sebelumnya, dalam sebuah wawancara dengan jurnalis di gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Senin (6/7), Muzafar Komandan Pangkalan Udara Haluoleo Kolonel Pnb Muzafar menyatakan kekhawatiran wartawan ditunggangi teroris.
“Kan sudah pernah diliput, dan saya punya wewenang penuh untuk melihat intensitas keributan itu seperti apa. Saya tidak mau ambil risiko, teman-teman wartawan ini ditunggangi sama teroris,” demikian bunyi pernyataan Muzafar saat diwawancara jurnalis di Kendari.
Kedatangan TKA China di Kendari sendiri menjadi polemik karena ditolak pemuda dan mahasiswa di ibu kota provinsi Sulawesi Tenggara.(ern/cnn)



