Pemugaran Yasti Candi Borobudur Dipastikan Sesuai Kaidah Konservasi

Jakarta, DUTA TV – Menteri Kebudayaan Fadli Zon meninjau pemugaran yasti dan konservasi Mahastupa Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, untuk memastikan penanganan struktur dan material candi sesuai dengan kaidah konservasi.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan struktur, mempertahankan keaslian material, serta memastikan pelestarian candi yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia itu berlangsung secara berkelanjutan.

Peninjauan tersebut dilakukan untuk menjaga kestabilan struktur, mempertahankan keaslian material, serta memastikan pelestarian candi yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia itu berlangsung secara berkelanjutan.

“Batu andesit tentu harus ada konservasi. Iklim kita berubah, dan kondisi hujan sekarang berbeda dengan seratus atau dua ratus tahun lalu.

“Karena itu, kita perlu memastikan penanganan yang tepat agar batu dan relief Borobudur tetap terjaga,” kata Fadli dalam keterangan Kementerian Kebudayaan yang diterima, Kamis.

Fadli menjelaskan pemugaran yasti diperlukan untuk memperkuat bagian puncak stupa induk yang mengalami pergeseran susunan batu.

Sementara itu, konservasi Mahastupa dilakukan untuk menangani penggaraman dan pelapukan yang berpotensi mengurangi ketahanan material candi.

Pemugaran dan konservasi tersebut dilaksanakan Kementerian Kebudayaan melalui Museum dan Cagar Budaya (MCB), setelah pemantauan dan kajian teknis pada Agustus 2026 menemukan pergeseran susunan batu, rongga, dan rekahan pada bagian yasti dan harmika, serta kerusakan material pada stupa induk.

Pemugaran yasti berfokus pada pemulihan kestabilan struktur dengan mengutamakan penggunaan material asli. Adapun konservasi Mahastupa mencakup penanganan penggaraman, pelapukan, rongga, dan rekahan pada batu.

Penggaraman yang tampak sebagai lapisan putih pada permukaan batu dapat berkaitan dengan pergerakan air dan keberadaan garam di dalam material.

Penanganannya memerlukan metode yang tepat agar kerusakan tidak bertambah dan keaslian batu tetap terjaga.

“Relief-relief Borobudur yang sudah berusia lebih dari seribu tahun memerlukan penanganan yang tepat.

“Kita perlu memastikan perawatannya berkelanjutan, sehingga relief tetap terjaga ketajamannya dan batu tidak melunak atau mengalami kerusakan. Ini salah satu pekerjaan konservasi yang penting dan perlu dilakukan berdasarkan kajian yang cermat,” ujar Fadli.

Pekerjaan tersebut melibatkan tim gabungan dengan keahlian arkeologi, konservasi, teknik sipil dan struktur, serta metalurgi.

Pelaksanaannya dilakukan bertahap melalui pemeriksaan, dokumentasi, dan analisis material sebelum tindakan lanjutan ditetapkan.(ant)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *