Kasus Stroke Usia 20-50 Tahun Meroket 2 Kali Lipat

Jakarta, DUTA TV – Stroke kerap diidentikkan sebagai penyakit yang hanya mengintai kelompok usia lanjut. Tetapi, studi terbaru dari University of Cincinnati menunjukkan tren mengkhawatirkan.

Angka kejadian stroke pada kelompok usia muda (20-54 tahun) melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tiga dekade lalu. Fenomena ini memicu keprihatinan mendalam dari para pakar kesehatan.

George Howard, ilmuwan senior dan profesor dari University of Alabama at Birmingham, menyebut dampak stroke pada anak muda sangat menghantam kualitas hidup.

“Beban kesehatan akibat mengalami stroke di usia muda sangatlah besar. Seseorang bisa hidup bertahun-tahun setelah mengalami stroke dengan dampak sisa yang signifikan, baik dari segi biaya penanganan maupun penurunan kualitas hidup pasien,” ungkap Howard, dikutip dari Newsweek.

Hingga saat ini, para peneliti masih terus mendalami penyebab pasti di balik lonjakan kasus ini. Namun, sejumlah pakar menilai ada keterkaitan kuat antara gaya hidup modern dan penyakit kronis yang muncul lebih awal.

Dr Lee Schwamm, profesor neurologi serta informatika biomedis dan sains data di Yale University, menjelaskan bahwa pemicu utamanya adalah penyakit metabolik yang kerap tak disadari oleh anak muda.

“Sangat mungkin sebagian besar peningkatan ini disebabkan oleh makin maraknya faktor risiko seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi di kalangan pasien muda, baik yang sudah terdeteksi maupun tidak, yang kemudian memicu terjadinya stroke iskemik di usia lebih muda,” terang Dr Schwamm.

Senada dengan hal tersebut, Profesor Epidemiologi dari University of Michigan, Lynda Lisabeth, menambahkan bahwa kurang maksimalnya penanganan medis awal pada anak muda turut memperburuk keadaan.

“Deteksi, pengobatan, dan pengontrolan faktor risiko yang belum optimal, khususnya pada hipertensi, dapat berkontribusi terhadap lonjakan risiko stroke di usia muda,” ujar Lisabeth.

Lisabeth juga menyebut faktor perubahan demografi sebagai alasan tambahan, mengingat kelompok ras dan etnis tertentu memiliki kerentanan serta beban risiko stroke yang berbeda di usia muda.

Meski tren ini terbilang mengkhawatirkan, Dr Lee Schwamm menegaskan bahwa langkah-langkah yang digunakan untuk mencegah penyakit jantung juga sangat efektif untuk mencegah stroke. Ia merujuk pada panduan Life’s Essential 8 dari American Heart Association (AHA).

Ia menyarankan anak muda untuk mulai rutin memeriksakan kondisi tubuh sejak dini tanpa menunggu gejala muncul.(dtk)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *