Tak Hiraukan Gonjang Ganjing Dunia, Tukang Cukur Ini Tetap Pasang Tarif Rp5.000

Jakarta, DUTA TV – Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok, seorang tukang cukur di Bogor, Jawa Barat, memilih tetap mempertahankan tarif potong rambut Rp5.000.

Keputusan itu diambil demi membantu pelanggan setianya yang mayoritas berasal dari kalangan pelajar hingga pekerja harian.

“Saya targetnya kelas menengah kebawah yang mau motong murah tapi tetap rapih” katanya saat ditemui, Kamis (16/7/26).

Menurut Supri, sebagian besar pelanggannya merupakan warga sekitar, mulai dari anak sekolah, pengemudi ojek online, buruh, pedagang, hingga pelanggan lama yang telah bertahun-tahun menggunakan jasanya.

Dalam waktu sekitar satu jam, terpantau sedikitnya 17 pelanggan datang untuk memangkas rambut.

Sejumlah pengunjung juga terlihat antri menunggu giliran di bangku yang sudah disiapkan.

Sementara itu, satu pelanggan umumnya membutuhkan waktu sekitar lima hingga sepuluh menit, dengan model rambut pendek dan rapi.

Meski keuntungan yang diperoleh tidak besar, Mang Supri mengatakan usahanya masih mampu mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Ramainya pelanggan menjadi penopang utama keberlangsungan usaha tersebut.

Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat. Pengeluaran untuk listrik, penggantian mata pisau, servis mesin cukur, hingga pembelian perlengkapan setiap bulan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari satu juta rupiah.

Untuk menyiasatinya, ia menghemat penggunaan perlengkapan dan merawat alat kerja agar tetap awet tanpa mengurangi kualitas pelayanan.

Supri juga menilai kondisi ekonomi membuat masyarakat semakin selektif dalam membelanjakan uang.

Banyak pelanggan memilih jasa cukur murah agar sisa uang dapat digunakan untuk kebutuhan lain.

Bahkan, menurutnya, ada pelanggan yang sengaja memilih tarif Rp5.000 karena selisih biaya dibanding tempat lain bisa dimanfaatkan untuk uang jajan anak atau kebutuhan sehari-hari.

“Ada anak sekolah, dia bilang sama orang tuanya Rp20 ribu karena cukur disini Rp5000 jadi ada sisanya buat dia jajan” tambahnya sambil tertawa.

Bagi Supri, pelanggan bukan sekadar orang yang datang untuk memangkas rambut, melainkan sudah menjadi bagian dari keluarga karena terus kembali selama bertahun-tahun.

Ia pun berharap usahanya tetap ramai. Soal kemungkinan menaikkan tarif, Supri hanya tertawa.

Baginya, keputusan itu masih sangat sulit untuk dipertimbangkan.

“Kalau untuk naikin harga dipikir setahun dua tahun dulu,” tutupnya.

Usaha yang sudah ia geluti sejak 1988 ini awalnya mematok tarif Rp2.000, sebelum menaikkannya menjadi Rp5.000 pada 2005.

Sejak saat itu hingga sekarang, selama lebih dari dua puluh tahun, harga tersebut tidak pernah berubah, tetap Rp5000.(cnbci)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *