Cegah Perundungan di Sekolah, ULM & MTSN 1 Banjarmasin Bentuk Duta Anti Bullying

Banjarmasin, Duta TV — Tepuk anti bullying menandai dimulainya komitmen bersama melawan kekerasan di lingkungan MTSN 1 Banjarmasin. Sebelumnya, para duta anti bullying MTSN 1 Banjarmasin ini mengucapkan ikrar janji dan kemudian dikukuhkan.

Program bertajuk Student Care Integrated ini merupakan kolaborasi untuk membangun sistem perlindungan sekolah yang aman, peduli, dan inklusif.

Koordinator Prodi S-3 Administrasi Pendidikan ULM, Prof. Drs. Ahmad Suriansyah, M.Pd., Ph.D., mengatakan kasus bullying saat ini tidak bisa ditangani secara parsial karena melibatkan banyak faktor, mulai dari siswa, guru, kepala sekolah hingga lingkungan sekolah itu sendiri.

“ Kita mencermati sekarang bullying atau dan lebih spesifik pada kekerasan di anak di sekolah maupun di masyarakat kan sangat tinggi dan kasus-kasus yang kita saksikan di berbagai media cetak dan media elektronik kan luar biasa ya lebih-lebih pada kekerasan fisik dan kekerasan psikologis. Nah, dari berbagai kajian kita bahwa bullying ini tidak bisa diatasi secara parsial, dia memerlukan integrasi dari berbagai komponen baik komponen di sekolah maupun di masyarakat. Nah, terutama di sekolah, faktor-faktor penentu terjadinya bullying itu kan tidak hanya peserta didik itu sendiri, tetapi bagaimana peranan guru, bagaimana peranan kepala sekolah, bagaimana peranan lingkungan yang memungkinkan atau meminimalkan kemungkinan terjadinya bullying, kita harus kita tata. Nah, dalam konteks inilah, kajian-kajian administrasi pendidikan, administrasi sekolah, dan penduduk sekolah itu menemukan bahwa ada satu integrasi berbagai komponen dan integrasi berbagai aktivitas termasuk aktivitas pembelajaran untuk minimal paling tidak meminimalkan terjadinya bullying secara fisik dan apalagi secara psikologis. Hasil kajian kami ini oleh tim kami mahasiswa program doktor itu coba diimplementasikan ke dalam sekolah, nanti kita ukur repetitifitasnya bagaimana. Kalau sudah menunjukkan hasil yang bagus, kita akan diseminasi lagi pada sekolah-sekolah secara luas,” ujar Prof. Drs. Ahmad Suriansyah.

H. Saipudin, S.Ag., M.Pd.I., Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Banjarmasin, menilai edukasi terkait bullying harus terus dilakukan. Pasalnya, perundungan dapat terjadi antar siswa bahkan kepada guru. Di MTSN 1 Banjarmasin sendiri, pembentukan tim dan duta anti bullying diharapkan mampu menekan kasus kekerasan verbal maupun fisik di lingkungan madrasah. Kepala MTSN 1 Banjarmasin, Muhammad Jurmansyah, menyebut keberadaan duta anti bullying menjadi langkah penting agar sekolah terbebas dari kekerasan.

“ Kami akan terus mengarahkan kepada terutama yang membidangi pendidikan di Kemenag Banjarmasin, Kasi Pendidikan Madrasah, untuk terus sama-sama membentuk duta-duta anti bullying di madrasah-madrasah yang lain karena memang sekarang ini sangat marak sekali terkait dengan bullying, terlebih bukan hanya madrasah, di ponpes yang kami kelola di Kemenag ini sangat marak sekarang,” ucapnya.

M. Jurmansyah, S.Pd.I., Kepala MTSN 1 Banjarmasin, menjelaskan dibentuknya tim anti bullying dan duta anti bullying ini sangat penting sekali bagi MTSN 1 karena berguna untuk mengurangi dampak bullying baik verbal maupun fisik.

“ Jadi alhamdulillah di MTSN 1 dibentuk tim anti bullying, duta anti bullying ini sangat penting sekali bagi MTSN 1 karena untuk mengurangi dampak bullying di MTSN 1, karena untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Biasanya sikap anak-anaknya rawan terhadap bullying tersebut baik verbal maupun yang fisik. Nah, oleh karena itu dengan adanya pembentukan tim duta anti bullying ini maka kami berharap berkuranglah bullying tersebut dan akhirnya nanti sudah tidak ada lagi di MTSN 1 bullying serta kekerasan terhadap sesama siswa dan guru,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Prodi S3 Administrasi Pendidikan ULM, Hj. Septy Rovana, S.Pd., M.Pd., juga menjelaskan para siswa dilatih menjadi agen perubahan melalui sejumlah divisi, mulai dari edukator, mediator hingga kampanye anti bullying.

“ Tujuan pengabdian kami adalah membangun sistem perlindungan di madrasah khususnya di MTSN Banjarmasin ini memiliki imunitas mandiri terhadap kekerasan bullying atau perundungan. Kami memberdayakan siswa sebagai agen perubahan, kami latih menjadi duta anti bullying dimana ada divisi edukator kemudian yang mengajarkan apa sih bullying itu gitu, kemudian ada divisi mediator. Nah, di sini teman-teman mereka sebaiknya untuk curhat kepada mereka gitu, kemudian ada divisi kampanye jadi mereka mengkampanyekan agar tidak lagi terjadi bullying di MTSN 1 Kota Banjarmasin. Menurut kami pencegahan bullying dengan cara ini paling efektif digunakan, kenapa? Karena berasal dari siswa, kemudian oleh siswa dan untuk siswa. Kemudian kami juga menyiapkan SOP yang jelas dan rahasia dalam artian siswa itu tidak lagi merasa takut untuk lapor kepada tim ketika mereka menjadi korban bullying atau melihat kejadian bullying di madrasah mereka. Karena yang pastinya keamanan identitas mereka dijaga dan tentu saja penanganannya lebih cepat. Kemudian target utama kami adalah kami mengharapkan setelah kegiatan ini madrasah menjadi rumah kedua yang aman bagi semua siswanya. Jadi harapan kami setelah ada pengabdian kepada masyarakat ini dari S3 Administrasi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat, perundungan atau bullying itu semakin berkurang dan tentu saja bahkan tidak ada lagi nantinya,” tambahnya.

Dalam kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan kerja sama antara Program Studi S-3 Administrasi Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat dengan MTSN 1 Banjarmasin. Para duta anti bullying ini juga mendapatkan sertifikat bentuk legalitas terhadap perannya mengantisipasi bullying di sekolah.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *