Indonesia Penyumbang Kelahiran Prematur Terbanyak, Ibu Hamil Diingatkan Periksa Minimal 6 Kali

Banjarmasin, Duta TV — Para ibu hamil dihimbau untuk memeriksakan kehamilannya minimal enam kali selama masa kehamilan. Himbauan itu disampaikan Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan ULM saat memberikan materi dalam seminar yang digelar Instalasi Neonatal Risiko Tinggi dan KSM Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Umum Daerah Ulin Banjarmasin.

Seminar ini digelar memperingati Hari Prematur Sedunia tahun 2025. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga masa kehamilan dan mencegah kelahiran prematur. Pasalnya, sebagai negara berkembang nomor lima di Asia, Indonesia termasuk negara penyumbang kelahiran prematur terbanyak di dunia.

Penyebabnya adalah minimnya pengetahuan akibat pernikahan dini. Untungnya, RSUD Ulin merupakan salah satu rumah sakit dengan fasilitas mumpuni dan mampu merawat bayi prematur dengan bobot 700 gram.

“Ibunya sehat semuanya insyaallah bayinya juga sehat. Semua ibu hamil kontrol rutin enam kali selama kehamilan karena kalau sudah enam kali kalau ada penyakit-penyakit bisa ditangani lebih awal,” ujar Prof. Dr. dr. Ari Yunanto, narasumber.

“Kita Indonesia itu sebagai salah satu negara berkembang yang nomor lima di Asia sebagai penyumbang kelahiran prematur terbanyak,” ucap dr. Pricilia Gunawan Halim, Ketua Panitia World Prematurity Day 2025.

“Harapannya dengan berkembangnya alat di Ulin bisa selanjutnya di bawah 700 gram bisa menghidupkan dengan kualitas hidup yang bagus. Jadi terpenting bukan cuma hidup sekarang, yang penting kualitas hidupnya juga bagus. Tingkat global pernikahan dini, tingkat kesehatan ibu-ibu hamil, tingkat pendidikan—apalagi di Kalsel banyak yang tidak mengerti tentang kehamilan sehat seperti apa—sehingga terpantau melahirkan bayi prematur kecil,” sambungnya.

Dr. Pudji Andayani, yang juga merupakan narasumber dalam seminar tersebut, mengaku bersyukur karena kini setiap tahunnya Rumah Sakit Ulin sudah mulai bisa menangani bayi dengan bobot 700 gram dan berharap selanjutnya bisa menyusul dengan bobot bayi 500 gram seperti rumah sakit lainnya.

“Rumah Sakit Ulin ini di Kemenkes adalah rumah sakit paripurna, jadi lebih banyak pasien-pasien yang lahir di Ulin itu sekarang kecil-kecil yang prematur. Jadi ibunya rujukannya bayi kecil atau rujukan dengan ibunya dan alhamdulillah tiap tahun sekarang kita sudah bisa mulai yang 700 gram. Bisa, mudah-mudahan ke depannya seperti rumah sakit yang lain 500 gram. Mohon dukungan dari manajemen,” ungkapnya.

Sementara dr. dr. Agung Ary Wibowo, Wadir Pelayanan Medik & Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin, merasa bangga karena saat ini telah banyak bayi prematur dengan berat 750 gram yang bisa bertahan.

“Luar biasa dulu bayi-bayi prematur itu harapan hidupnya kecil. Sekarang kita sudah sampai berat 750 gram itu bisa survive. Targetnya adalah bayi sampai 500 gram bisa survive di Ulin. Ini memang tentunya manajemen akan mendukung kelengkapan alat, fasilitas, dan SDM sehingga ke depan bayi-bayi 500 gram bisa survive,” ungkapnya.

Seminar diisi dengan materi perawatan bayi prematur di rumah, nutrisi enteral dan parenteral optimal untuk tumbuh kembang bayi prematur, hingga diskusi interaktif dengan keluarga alumni bayi NICU RSUD Ulin. Selain seminar, World Prematurity Day juga diisi dengan penyematan pin NICU Warrior.

Reporter: Evi Dwi Herliyanti

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *