400 Pasien Rutin Cuci Darah, RSUD Ulin Ingin Jadi Rumah Sakit Transplantasi Ginjal

Banjarmasin, DUTA TV — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin bersiap menjadi rumah sakit transplantasi ginjal. Hal itu menyusul jumlah pasien gagal ginjal yang menjalani cuci darah di RSUD Ulin dari tahun ke tahun terus meningkat.
Bahkan saat ini, total pasien yang harus rutin menjalani cuci darah mencapai 400 orang, 18 diantaranya harus menjalani dialisis peritonial, karena masuk dalam kategori ginjal kronik tahap 5.
Direktur RSUD Ulin Banjarmasin dr. Diauddin mengungkapkan, banyaknya jumlah pasien ginjal kronik yang mencapai belasan itulah membuat RSUD Ulin sebagai salah satu rumah sakit rujukan di Kalimantan, mempersiapkan pelaksanaan operasi tranplantasi ginjal. Pasalnya, salah satu pengobatan bagi pasien dengan ginjal kronik tahap 5 adalah dengan transplantasi ginjal.
“Salah satu layanan prioritas yang diinginkan oleh Kementrian Kesehatan itu adalah pelayanan tranplantasi ginjal dan ini tengah kita siapkan. Dan kita sudah mampu melaksanakan, tinggal pelaksanaannya saja lagi. Dan sudah dalam proses. Nantinya seperti bedah jantung, nanti akan ada pendampingan dari RSCM,”tuturnya.
“Pasien yang masuk kategori perlu terapi pengganti ginjal adalah pasien dengan ginjal kronik tahap 5, yang kita lihat berdasarkan nilai kemampuan sesuai perhitungannya. Jadi yang sudah masuk tahap 5 tadi dan perlu terapi pengganti ginjal kita lakukan seleksi, apakah dapat menjalani dialisis peritonial atau dia memenuhi syarat untuk tranplantasi ginjal. Jadi seleksi kandidat ditentukan oleh dokter,”terang dr. Enita Rakhmawati Kurniaatmaja, Kepala Instalasi Hemodialisis RSUD Ulin Banjarmasin.
Sementara, dalam peringatan Hari Ginjal Sedunia, Ketua TP PKK yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Selatan Raudhatul Jannah, menghimbau agar masyarakat melakukan pola hidup sehat dan seimbang, serta makan makanan bergizi untuk menghindari penyakit gagal ginjal.
“Pertama kita kan memberikan semangat kepada pasien yang dihemodialisa. Dan kita tentu saja mengedukasi masyarakat secara luas untuk lebih mengarah ke pencegahan karena kasus ginjal. Ini makin marak karena pola hidup dan pola makan dan minuman – minuman yang beresiko terhadap terjadinya kerusakan ginjal. Jadi kita semakin banyak mencegah lebih baik mencegah daripada mengobati,”katanya.
Karena belum mampu melaksanakan tranplantasi ginjal secara mandiri, saat ini pasien yang ingin menjalani tranplantasi harus dirujuk ke rumah sakit tetangga yang ada di Jakarta maupun pulau Jawa.
Reporter : Evi Dwi Herliyanti





