717 Orang di Batang Keracunan MBG, Dinkes Temukan Mikroba pada Sampel Makanan

Batang, DUTA TV – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, menemukan cemaran mikroba dalam sampel makanan terkait kasus keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 717 orang di Kecamatan Bawang pada 23 September 2026.
Meski demikian, pihak Dinkes menyatakan bahwa temuan laboratorium tersebut belum bisa dijadikan bukti mutlak untuk menyimpulkan makanan MBG sebagai penyebab utama timbulnya keracunan massal.
Dinkes menyebut, sampel yang diperiksa berasal dari bank sample di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang, bukan merupakan sisa makanan yang dikonsumsi langsung oleh para korban.
Kepala Dinkes Kabupaten Batang, Ida Susilkasmi, mengonfirmasi hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya cemaran mikroba pada sampel makanan dan sampel feses penderita, sementara sampel muntahan dinyatakan negatif.
“Kalau ditanya ini penyebabnya apa, kita tidak bisa menyimpulkan ini penyebabnya apa,” ujar Ida saat dikonfirmasi Kompas.com melalui sambungan telepon, Senin (12/10/2026).
Keterbatasan sampel yang ada membuat timnya belum dapat memastikan jenis menu makanan tertentu maupun tahapan pengolahan yang menjadi titik awal munculnya cemaran.
Adapun sampel makanan yang diuji meliputi nasi putih, telur bolognese, cah sayur, tahu goreng tepung, serta buah anggur, di samping pemeriksaan sampel air bersih dan air cucian wadah (ompreng).
Ida enggan membeberkan secara spesifik jenis menu yang positif tercemar demi mencegah timbulnya traumatik pada anak-anak sekolah sebagai penerima manfaat utama program MBG.
“Bukan masalah menutup-nutupi, tetapi takutnya nanti anak-anak menjadi tidak mau makan ini, tidak mau makan itu. Mereka belum cukup untuk bisa menelaah seperti itu, takutnya malah menimbulkan trauma,” tuturnya.
Menanggapi pertanyaan apakah temuan mikroba mengonfirmasi bahwa menu MBG memicu keracunan 717 warga, Ida membantah anggapan mendasar tersebut.
Ia menekankan dari total sekitar 2.595 penerima manfaat, tidak semua siswa mengalami gejala serupa, sehingga perlu penelusuran lebih mendalam dari hulu ke hilir.
“Tidak bisa hanya berdasarkan asumsi. Yang bisa disimpulkan, berarti ada kemungkinan SOP yang dilanggar, baik dalam pengolahan, penyiapan, penyajian, distribusi, atau waktu konsumsi.
“Tugas kami hanya memeriksa, menyampaikan hasil pemeriksaan, gitu aja,” terangnya.
Sementara itu, Kasi Surveilans Dinkes Batang menjelaskan bahwa mikroba dapat membelah diri dengan cepat apabila proses pematangan makanan kurang sempurna atau peralatan kurang higienis.
Apalagi jika makanan panas langsung dimasukkan ke dalam wadah ompreng tertutup dan didistribusikan dalam kurun waktu beberapa jam pada suhu ruangan yang mendukung pertumbuhan mikroorganisme.(kom)





