Sejarah Musabaqah Tilawatil Qur’an di Indonesia

Jakarta, DUTA TV — Tidak banyak yang tahu jika asal usul MTQ itu bermula dari lima orang pemuda yang hoby melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di Masjid Ampel Surabaya. Kelima pemuda itu adalah M. Basori Alwi Murtadlo, Abdullah Alwi Murtadlo, Abdullah Muhammad, Mujri Dahlan, dan Ali Muhammad.
Mereka berlima secara rutin mengumandangkan tarhim menjelang subuh di Masjid Ampel di tahun 1950-an. Kemudian secara bergantian melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an hingga waktu shalat subuh datang.
Mulanya mereka berlima hanya berlatih keahlian tilawah sekaligus memperkenalkan bacaan tartil yang baik dan benar. Namun kegiatan tersebut mengundang perhatian banyak orang. Jamaah Masjid Ampel lalu meminta ada kegiatan khusus bagi para penikmat lagu Qur’an.
Akhirnya kelima pemuda itu membentuk acara rutin setiap malam Jumat yang bertajuk “Lailatul Qiro’ah” atau Malam Baca Al-Qur’an.
Dalam kegiatan Lailatul Qiro’ah yang dimulai sesudah sholat Isya’ tersebut, KHM Basori Alwi Murtadlo (yang saat itu lebih dikenal dengan nama Ustadz Basori) dan kawan-kawan melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dan mengajarkan lagu-lagu tilawah kepada para jamaah Masjid Ampel.
Melihat peserta makin membludak, Ustadz Basori mengubah nama acara tersebut menjadi “Majlisul Qurro’ (Perkumpulan Para Pembaca Al-Qur’an)”.
Di majelis itu kelima pemuda tadi mengajarkan lagu-lagu qiroah dan melahirkan qori-qori muda potensial. Para qori itu kemudian menularkan hasil belajarnya kepada qori lain. Sehingga semakin luaslah jaringan para qori ini.
Pada pertemuan pertama di sebuah langgar yang terletak di wilayah Kebalen, Malang, disepakati untuk mengubah nama Majlisul Qurro’ menjadi “JAM’IYYATUL QURRA’ WAL HUFFADZ” (Perkumpulan Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an) atau “JQH”.
Perkumpulan JQH ini berkembang pesat, dan kemudian berafiliasi dengan NU Wilayah Jawa Timur. Kemuduan secara resmi pengurus JQH menghadap Ketua Umum PBNU di Jakarta (KH Idham Chalid). Keberadaan JQH ini disambut hangat. Dua tahun berjalan, JQH melebarkan sayapnya ke berbagai daerah.
Pada tahun 1954, guru ngaji Ustadz Basori, KH Abdul Karim (Gresik), seorang ulama ahli Qur’an yang kondang dengan kefasihan dan suara emasnya, diundang Menteri Agama (KH Wahid Hasyim) untuk membaca Al-Qur’an di Istana Negara.
Memanfaatkan kesempatan tersebut, KH Abdul Karim melaporkan kepada Menteri Agama tentang perkumpulan tilawah (JQH) yang cukup besar di Jawa Timur yang berpusat di Masjid Ampel. Laporan tsb diterima dengan senang hati. Apalagi Indonesia sedang sibuk mempersiapkan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang akan digelar di Bandung.
Tak lama berselang, Ustadz Basori Alwi diundang ke Jakarta untuk menemui KH Ahmad Syaikhu, ketua Organisasi Islam Asia Afrika (OIAA). Ternyata Ustadz Basori Alwi dilibatkan dalam kepanitiaan KAA tersebut. Saat KAA berlangsung, Ustadz Basori Alwi memperoleh kesempatan tampil sebagai salah satu qori mewakili Indonesia.
Pada saat itulah Ustadz Basori Alwi mengutarakan ide penyelenggaraan semacam LOMBA MEMBACA AL-QUR’AN BERTARAF INTERNASIONAL. KH Ahmad Saikhu melihat ide tersebut orisinal dan sangat bagus.(ti)





