Presiden Macron Beri Penghargaan Penjual Koran Terakhir di Paris

Jakarta, DUTA TV –Selama lebih dari lima dekade, seorang penjual koran telah menyusuri trotoar Paris, menjadi bagian dari denyut budaya kota itu sambil menyapa orang-orang yang ditemuinya, bercakap-cakap dengan pelanggan, menyapa teman lama, dan melontarkan candaan dari judul-judul berita.

Pada Rabu (28/1/2026), jerih payah pria yang diyakini sebagai penjual koran keliling terakhir di Prancis itu mendapat pengakuan resmi.

Ali Akbar, pria berusia 73 tahun yang berasal dari Pakistan, menerima salah satu penghargaan paling bergengsi di Prancis.

Dalam sebuah upacara di Istana Elysee, Presiden Prancis Emmanuel Macron menganugerahkan gelar ksatria Ordo Nasional Kehormatan kepada Ali sebagai pengakuan atas jasa-jasanya yang luar biasa bagi Prancis.

Dalam sambutannya, Macron menyebut Ali sebagai “orang Prancis yang paling Prancis di antara orang Prancis”.

“Anda adalah suara khas  arrondissement  keenam, suara pers Prancis setiap Minggu pagi—dan juga di hari-hari lainnya,” ujar Macron seperti dikutip dari The Guardian.

“Suara hangat yang, setiap hari selama lebih dari 50 tahun, menggema di teras-teras Saint-Germain, menyelinap di antara meja-meja restoran.”

Berbicara kepada Reuters pada Agustus lalu, Ali mengungkapkan kebahagiaan yang ia rasakan saat berjalan kaki menyusuri Paris setiap hari.

“Ini soal cinta,” kata Ali sambil melintasi jalanan berbatu di Saint-Germain-des-Pres.

“Kalau hanya demi uang, saya bisa melakukan pekerjaan lain. Tapi saya sangat menikmati kebersamaan dengan orang-orang ini.”

Ordo Nasional Kehormatan adalah tanda jasa resmi negara Prancis yang diberikan kepada seseorang atas pengabdian atau jasa luar biasa kepada negara dan masyarakat.

Kisah Ali Akbar

Lahir di Rawalpindi, Pakistan, Ali mengatakan bahwa ia menemukan panggilan hidupnya secara tidak sengaja setelah tiba di Paris pada 1973.

Ketika upaya awalnya membangun kehidupan di Eropa terhambat masalah visa, ia bertekad mencari pekerjaan apa pun yang dapat membantunya menafkahi orang tua serta tujuh saudara kandungnya di kampung halaman.

Dengan bantuan seorang mahasiswa asal Argentina yang menjual majalah satir, Ali bergabung dengan jajaran beberapa lusin penjual surat kabar di kota itu.

Senyumnya yang ramah, selera humornya, serta kesiapannya berjalan kaki berkilometer setiap hari membuatnya disukai banyak orang dan memberinya penghasilan yang sederhana namun cukup.

Pada siang hari, ia menjual surat kabar kepada para tokoh berpengaruh Prancis, seperti mantan presiden François Mitterrand, serta kepada mahasiswa Sciences Po yang kelak mengikuti jejak mereka, seperti Macron dan mantan perdana menteri Edouard Philippe.

Pada malam hari, di tahun-tahun awalnya, ia tidur di bawah jembatan dan di kamar-kamar kumuh, sembari berusaha mengirim sebanyak mungkin uang ke Pakistan.

Seiring berlalunya waktu, Ali menjadi sosok yang akrab di restoran dan bar di kawasan Left Bank.

Perlahan namun pasti, ia membangun kehidupannya di Paris, menikah dan membesarkan lima anak, meskipun industri surat kabar mulai meredup.

Jika dulu ia dengan mudah bisa menjual hingga 200 eksemplar koran per hari, masa itu kini tinggal kenangan.

Meski demikian, ia tetap bertahan.

“Saya punya cara tersendiri menjual koran. Saya mencoba membuat lelucon agar orang tertawa. Saya berusaha bersikap positif dan menciptakan suasana… Saya mencoba masuk ke hati orang, bukan ke dompet mereka,” bebernya.

Menjelang upacara penganugerahan, Ali mengatakan bahwa menerima tanda kehormatan tersebut merupakan sebuah kehormatan besar baginya.

Ia mengatakan kepada penyiar Franceinfo bahwa penghargaan itu menjadi semacam obat penenang atas banyaknya luka yang ia alami sepanjang hidupnya.

Meski demikian, ia menegaskan tidak memiliki rencana untuk berhenti berjualan koran.

Ia bersikeras akan terus menyusuri jalanan dan kafe-kafe kota Paris selama masih memiliki tenaga.(lip6)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *