Perajin di Kampung Sasirangan Kebagian ‘Berkah’ HUT Kota Seribu Sungai

Banjarmasin, Duta TV – Sejak pandemi Covid 19 berakhir, industri rumahan di Kampung Sasirangan Kota Banjarmasin, perlahan namun pasti, kembali menggeliat dan mengalami peningkatan.
Para perajin sasirangan, khususnya pelaku UMKM di Kampung Sasiraingan pun kembali dituntut kreativitasnya untuk mengimbangi berbagai kebijakan pemerintah yang mendorong tumbuhnya sektor perekonomian di Banua.
Seperti kebijakan pemerintah Kota Banjarmasin yang mewajibkan ASN, khususnya di bagian pelayanan, untuk mengenakan pakaian adat Sasirangan sepanjang September, guna memeriahkan hari jadi Kota Seribu Sungai.
Kebijakan tersebut praktis berdampak pada tingginya permintaan yang menuntut kesiapan para perajin akan ketersediaan produk berkualitas. Namun dibalik tantangan itu, ada perputaran bisnis yang menjanjikan cuan bagi para perajin.
Faridha, salah satu perajin kain sasirangan mengaku, dalam beberapa bulan terakhir, transaksi kain Sasirangan tumbuh cukup baik. Bahkan dalam sebulan omzet bisa menembus angka hingga 35 juta rupiah perbulan.
“Dari 25 juta saat bulan Agustus setelah ada kewajiban ASN wajib memakai sasirangan naik sekitar 35 juta, naik 10 juta dari sebelumnya”, Kata Faridha, Perajin Sasirangan
Selain datang dari kebijakan pemerintah untuk mengenakan saringan , tingginya momen pernikahan dan trending di kalangan remaja untuk mengenakan pakaian sasirangan, dinilai turut berkontribusi terhadap kenaikan omzet penjualan.
Produk yang ditawarkan di setiap toko pun cukup bervariasi, mulai dari seragam Kantor, Rok, Jilbab, sabuk kain Sasirangan, Laung, hingga pakaian kantoran bisa didapat dengan harga eceran dan grosir.
“Yang dijual baju jadi, Laung, macam macam model yang dicari. Di sini standard satu set Laung sama Tapih 250.000 kalo misalkan jubah tidak diproduksi lagi, baju kantoran kisaran 250 yang biasa penjahit menaikkan harga jahit karena produksi”, Ujar Rahmiyati, Penjual Sona Sasirangan
Para perajin dan pemilik toko di Kampung Sasirangan pun berharap, membaiknya bisnis sasirangan ini bisa terus bertahan bahkan berkembang. Karena selain mengangkat perekonomian warga, bisnis kain sasirangan juga bisa menjadi sarana menjaga kelesatiran budaya yang menjadi salah satu identitas warga di banua.
Tim Liputan





