Pengorbanan Warga di Balik Berdirinya Masjid Al Jihad

Banjarmasin, Duta TV — Masjid Al Jihad yang terletak di kawasan Cempaka, Banjarmasin Tengah, merupakan salah satu masjid Muhammadiyah bersejarah di Banjarmasin.

Awalnya bangunan masjid ini sama dengan masjid lain yang hanya terbuat dari kayu pada tahun 1969 lalu.

Namun dalam prosesnya, keberadaan masjid terus berkembang hingga menjadi masjid tiga lantai dengan kapasitas 3.500 jemaah. Setiap harinya masjid ini digunakan untuk berbagai macam kegiatan keagamaan, terlebih saat Ramadan seperti ceramah agama, kajian ibu-ibu hingga pesantren Ramadan.

Di awal ide pembangunan pada tahun 1967, diketahui hanya ada dua masjid Muhammadiyah di Banjarmasin. Pihak pengurus Muhammadiyah pun kemudian berinisiatif untuk membangun masjid Muhammadiyah yang baru.

Sekretaris Masjid Al Jihad Banjarmasin, Aliansyah, mengatakan, “Dicetuskan tahun 13 November 1967 karena hanya ada dua buah masjid Muhammadiyah di Kelayan dan di Sungai Miai. Lalu tercetus pembangunan Masjid Al Jihad. Pada hari berikutnya dibuat SK pembuatan panitia pembangunan Masjid Al Jihad, semula punya nama Singkang.”

Setelah mengumpulkan panitia dan juga warga, akhirnya mereka mendapatkan tempat untuk membangun masjid yang lokasinya berada di lokasi Masjid Al Jihad sekarang ini.

Pihak warga dan panitia harus mengumpulkan sejumlah uang untuk membeli lahan dan bangunan rumah yang saat itu nilainya empat juta lima ratus ribu rupiah.

Dengan semangat kebersamaan dan perjuangan, akhirnya uang tersebut terkumpul. Uang tersebut berasal dari harta benda berharga milik warga Muhammadiyah, baik itu emas, jam berharga, hingga sepeda ontel. Sebelumnya lahan dan bangunan tersebut juga ingin dibeli oleh pihak lain dan bakal dibangun tempat ibadah lain. Hal itu juga yang menambah semangat warga untuk segera membeli lahan tersebut.

Aliansyah menambahkan, “Kemudian oleh panitia dibeli. Sebelum dibeli ditawarkan 4.500 ribu, kalau emas 2,5 kilogram. Beberapa hari kemudian ada yang menawar untuk rumah ibadah lain. Karena ada penawaran dari Al Jihad diberi waktu tiga hari, sepakatlah tiga hari. Dinego lagi turun 4.250. Di DP 100 ribu rupiah. Dikumpulkan 150 orang dengan semangat yang menggugah, apakah mau azan yang berkumandang atau lonceng yang berbunyi. Akhirnya beberapa warga mengumpulkan benda-benda berharga seperti emas, jam tangan, cincin emas kawin, hingga sepeda ontel, tidak lain untuk membangun tempat ibadah. Akhirnya bisa dibeli tanah dan bangunan.”

Untuk pembangunan, pihak panitia dan juga warga baru melakukannya pada tahun 1969.

Sebelumnya ada tiga nama yang bakal dijadikan nama masjid ini, yakni Al Fatah yang artinya kemenangan, Al Munawarah yang artinya diberi cahaya, hingga terpilihlah nama Al Jihad yang artinya perjuangan.

Aliansyah menjelaskan, “Untuk dibangun masjid 1969. Semula ada tiga nama Al Fatah kemenangan, Al Munawarah yang diberi cahaya. Akhirnya diberi nama Al Jihad sesuai perjuangan. Dari perencanaan satu tahun setengah, bangunannya awalnya kayu. Setahu ulun dua kali renovasi sampai permanen seperti sekarang.”

Bangunan masjid juga awalnya tidak seperti sekarang ini. Masjid Al Jihad sempat beberapa kali mengalami pemugaran hingga menjadi bangunan yang cukup besar dan memiliki bangunan yang cukup bagus untuk ukuran masjid.

Aliansyah mengatakan, “Kegiatan keagamaan cukup padat, terlebih Ramadan, kultum setelah tarawih, setelah subuh kajian ibu-ibu dan pesantren. Awalnya tidak seluas sekarang, karena kita dapat hibah bangunan, kita ada dipinjamkan aset pemko. Kita bisa menampung 3.000 sampai 3.500 jemaah sampai halaman belakang.”

Sementara menurut Ketua Masjid Al Jihad Banjarmasin, Taufik Hidayat, pada bulan Ramadan sekarang ini menu berbuka Masjid Al Jihad cukup menarik jemaah.

Menu sederhana bubur ayam yang ada sejak 32 tahun lalu menjadi incaran jemaah. Bahkan pengurus menyediakan sekitar 2.000 porsi lebih untuk setiap kali berbuka dan mengeluarkan biaya hingga 21 juta rupiah setiap harinya.

Tak hanya berbuka, pengurus masjid juga menyediakan menu sahur bagi para jemaah. Tak sedikit, pihak pengurus menyediakan 300 porsi setiap harinya. Bahkan 10 hari terakhir Ramadan mereka menyediakan hingga ribuan porsi makanan sahur untuk jemaah yang beritikaf di masjid ini.

Ketua Masjid Al Jihad Banjarmasin, Taufik Hidayat, mengatakan, “Di Masjid Al Jihad kita rutin sejak 32 tahun yang lewat yang rutin kita sajikan menu bubur ayam Al Jihad. Dua tahun ini kita bikin sendiri di dapur Masjid Al Jihad, kita namakan MBG. Alhamdulillah jemaah melebihi jemaah tahun kemarin, sekitar 30 termos sekitar 2.000 jemaah lebih. Selain bubur ada menu khusus ada nasi, nasi sop, rawon, nasi juga bestek, ada makanan Banjar tanpa mengurangi ada bubur juga. Alhamdulillah donatur terpenuhi, rata-rata menyediakan buka puasa 21 juta rupiah per hari. Kita juga menyiapkan sahur bersama.”

Pihak pengurus berharap ke depannya bisa lebih memakmurkan lagi jemaah dan donatur juga bisa menopang kegiatan di masjid ini. Masjid Al Jihad juga sempat dinobatkan sebagai masjid unggulan percontohan nasional oleh Kementerian Agama karena keberhasilannya dalam manajemen idarah atau administrasi, imarah atau kemakmuran, dan riayah pemeliharaan pada tahun 2024 lalu.

Reporter: Zein Pahlevi

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *