Komunitas Anak Muda yang ‘Tak Bisa Move On’ dari Masa Lalu

Kata orang, lupakan masa lalu. Tetapi bagi sekelompok anak muda ini, masa lalu justru menjadi bagian hidup.Mereka menghadirkannya kembali dalam kehidupan kini. Meminjam istilah populer, mereka ini anak-anak muda yang tak bisa move on.

YOGYAKARTA (VOA) —  Masa lalu yang kita bicarakan kali ini, bukan kenangan dengan mantan kekasih. Ini adalah tentang naskah kuno. Tulisan berumur ratusan tahun dengan aneka tema kehidupan. Bukan bidang yang populer memang, sehingga yang berkutat dengan naskah kuno, hanya mereka yang betul-betul mencintainya.

Di Yogyakarta ada Jangkah atau Jagongan Naskah. Organisasi yang baru berdiri sekitar empat bulan yang lalu. Anggotanya beragam, dan sebagian besar anak muda yang rutin berkumpul untuk mendiskusikan naskah kuno. Taufiq Hakim, salah satu pendiri Jangkah menjelaskan, naskah yang mereka diskusikan datang dari tempat penyimpanan berbagai kota yang disebut skriptorium.

Temanya pun beragam, mulai dari sejarah, sosial politik, budaya, obat-obatan, kisah wayang, hingga tari-tarian. Isinya juga harus ditafsirkan agar dapat dipahami. Tantangan berat, kata Hakim, untuk mengakrabkan anak muda pada naskah kuno. Karena itulah, mereka mencoba menyajikannya secara ringkas di media sosial sebagai bentuk perkenalan.

Komunitas Jangkah Yogyakarta bertemu membahas naskah kuno (Courtesy: Taufiq).

“Kebanyakan ini naskah tua, ada jarak ratusan tahun. Bagaimana cara membacanya? Kita coba membuat infografis seputar naskah-naskah itu, isinya apa. Paling tidak untuk mempublikasikan hal-hal yang mungkin diangggap berat dan tua, ke dalam media yang ramah bagi anak muda. Untuk memasyarakatkan wacana-wacana kuno ini, agar bisa mudah diterima dan dipahami, dengan alih wahana itu,” papar Taufiq.

Naskah kuno setidaknya memiliki tiga model bahasa. Ada aksara Jawa berbahasa Jawa, kemudian pegon yang menggunakan aksara Arab namun berbahasa Jawa. Ada pula Arab Jawi, yang menggunakan aksara Arab tetapi bahasa di dalam naskah adalah Melayu. Jika intensif belajar, seseorang butuh dua bulan untuk bisa membaca tulisan itu. Tetapi menerjemahkan dan memahami isinya butuh proses lebih panjang.

Naskah kuno, kata Taufiq memberi pemahaman banyak hal. Di era tahun 1800-an, misalnya, ternyata sudah ada penilaian pemimpin yang agamis atau liberal. Begitupun konflik politik dan diplomasi. Bahkan kita menjadi tahu, sejak dulu pemimpin melakukan pencitraan, melalui naskah itu. “Bedanya kalau sekarang, pencitraan itu dilakukan melalui media,” kata Taufiq.

Sejumlah naskah berisi hal yang lebih ringan, seperti cara membuat yogurt. Ada pula petunjuk membuat obat-obatan, pembuatan keris, panduan bertani, kuliner hingga cerita erotis. Jangkah akan membuat kelas baca tulis dalam beberapa bulan ke depan, agak ada lebih banyak masyarakat dapat membaca naskah kuno.

Kadipaten Pakualaman adalah salah satu tempat di mana kita bisa menemukan koleksi naskah kuno. Pakualaman, seperti juga Kasultanan, adalah kerajaan yang masih berdiri di Yogyakarta. Rajanya saat ini adalah Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Paku Alam X, yang juga menjabat sebagai Wakil Gubernur DIY.

Komunitas Jangkah Yogyakarta bertemu membahas naskah kuno. (Courtesy: Taufiq)

M Bagus Febriyanto, yang turut mendirikan Jangkah, kini adalah Penghageng Urusan Macapat Kadipaten Pakualaman. Tugasnya antara lain terkait dengan naskah-naskah kuno, yang disimpan rapi di perpustakaan.

Setidaknya ada 251 naskah kuno yang dikoleksi Pakualaman. Naskah itu mulai dikumpulkan pada 1812, di masa Pakualaman I hingga era pendudukan Jepang. Mengingat kerentanan sebagian naskah yang sudah berumur lebih dari 200 tahun, Bagus mengatakan proses digitalisasi sedang dilakukan. Mereka memiliki peralatan sendiri dan akan melatih petugas khusus untuk proses ini.

“Kami akan melakuan pelatihan sehingga digitalisasi ini akan memenuhi standar British Library,” kata Bagus.

Proses digitalisasi tidak bisa dilepaskan dari upaya menjaga keutuhan naskah kuno di satu sisi dan sosialisasi di sisi yang lain. Dengan digitalisasi, naskah kuno yang rentan tidak perlu sering dibuka. Koleksinya sendiri dapat dibaca masyarakat di Pakualaman, dan tidak diperbolehkan keluar. Bagus menambahkan, butuh waktu setidaknya 2 tahun untuk menyelesaikan proses tersebut.

“Kita hanya bisa mengakses di sini. Jika sudah digitalisasi, naskah ini tidak akan kami sodorkan langsung ke pembaca. Pembaca bisa membaca lewat hasil digitalisasi karena melihat kerentanan naskah yang sudah ratusan tahun. Yang membahayakan jika ada yang datang dan tidak diajari membuka naskah, mereka akan membuka seperti buku biasa,” ujar Bagus.

Untuk dapat dipahami, naskah kuno harus diterjemahkan. Baru sekitar 10 persen naskah di Pakualaman yang telah melewati proses ini. Mayoritas masih dalam proses alih aksara, yaitu mengubah aksara Jawa atau Pegon menjadi aksara latin agar lebih mudah dibaca.

Di Banyuwangi, Jawa Timur, ada juga sekelompok anak milenial yang mencoba mengakrabi kembali naskah-naskah kuno. Mereka tergabung dalam Mocoan Lontar Yusuf Milenial di Desa Kemiren, Banyuwangi. Mocoan bermakna pembacaan. Ini adalah tradisi masyarakat Banyuwangi, membaca kisah Nabi Yusuf yang ditulis dalam lembar-lembar daun lontar. Wiwin Indiarti, Dosen di Universitas PGRI Banyuwangi adalah salah satu pendiri komunitas ini.

Wiwin memaparkan, komunitas ini berdiri karena keprihatinan makin jauhnya jarak anak muda dengan tradisi Mocoan Lontar Yusuf. Hanya segelintir orang tua yang masih bisa membaca naskah kuno dengan aksara Pegon tersebut, sekaligus menyanyikannya dalam tembang. Ada 20 jenis tembang yang diketahui masih ada sampai saat ini. “Lontar Yusuf masih hidup di masyarakat Osing Banyuwangi karena masih dibaca dalam rangka ritual,” kata Wiwin.

Anggota komunitas Mocoan Lontar Yusuf Banyuwangi berlatih membaca naskah kuno. (Courtesy: Wiwin).

Di Desa Kemiren, hanya tinggal 9 orang tua yang bisa membaca naskah kuno itu. Karena itulah, Wiwin mengajak anak-anak muda mendirikan sekolah adat. Belajar membaca naskah adalah salah satu program mereka. Lontar Yusuf kini dibaca tidak dalam rangka ritual adat, tetapi diposisikan sebagai teks. Untuk membantu proses itu, Wiwin menyusun buku yang berisi naskah asli, alih aksara ke huruf latin dan juga terjemahannya.

“Mengajak kaum milenial belajar tradisi Mocoan Lontar Yusuf, kalau kita menggunakan teks Pegon mereka akan lari, karena itu sulit. Karena itu enggak apa-apa membaca transliterasinya dalam huruf latin. Tetapi untuk bisa membaca dengan baik, menembangkan, itu akhirnya mau gak mau harus melihat aksara Pegon-nya. Dan semua beragama islam sehingga punya ketrampilan dasar mengaji, membawa huruf Hijaiyah,” ujarnya.

Komunitas ini telah menyusun modul membaca Lontar Yusuf. Mereka juga merekam empat tembang atau nyanyian dasar dan mempopulerkannya melalui internet. Dengan semua upaya ini, mereka berharap anak muda kembali dekat dengan warisan masa lalu yang begitu berharga itu. [ns/em]

 

https://www.voaindonesia.com/a/komunitas-anak-muda-yang-tak-bisa-move-on-dari-masa-lalu/4754973.html

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *