Dari Balik Jeruji, Warga Binaan Lapas Karang Intan Budidayakan Teh Mint

Banjar, DUTA TV – Dari balik jeruji Lapas Narkotika Karang Intan, warga binaan belajar mengolah teh mint menjadi produk unggulan.
Warga binaan membudidayakan tanaman mint dengan sistem hidroponik, kemudian daunnya dipanen untuk dijadikan minuman teh mint.
Proses produksi teh mint diawali dengan panen atau pemangkasan daun mint menggunakan gunting. Kemudian daun mint dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari hingga mengering.
Setelah daun kering, lantas dilakukan proses penggilingan menggunakan blender hingga tekstur daun mint menjadi kecil-kecil dan lembut. Selanjutnya menata dan mengemas produk teh mint hasil pembinaan kemandirian untuk dipasarkan kepada pengunjung dan masyarakat dalam kegiatan luar lapas.
Salah seorang warga binaan, Doni, menuturkan proses pembuatan teh mint dimulai dari penanaman bibit secara manual di media hidroponik, lalu beberapa bulan kemudian siap dipanen untuk kemudian diolah menjadi teh mint. Tantangan terbesar dalam produksi teh mint adalah kondisi cuaca, lantaran sinar matahari menjadi faktor utama untuk menjaga kualitas daun agar rasa mint lebih natural.
“Awalnya dari pemetikan daun, kemudian dijemur. Kalau cuaca panas, satu hari sudah kering. Tapi kalau hujan atau mendung, bisa dua sampai tiga hari. Teh mint kami pilih karena belum banyak di pasaran. Awalnya hanya coba-coba, ternyata ada yang berminat, lalu kami kembangkan” ucap Doni.
Sementara Kepala Lapas Narkotika Karang Intan, Yugo Indra Wicaksi, mengatakan produksi teh mint ini menjadi yang pertama di Kalimantan dan produk ini telah ditetapkan sebagai pilot project oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
“Produksi teh mint ini baru pertama di Kalimantan dan alhamdulillah mendapat predikat sebagai pilot project dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan. Budidayanya relatif mudah dan kami bekerja sama dengan Dinas Pertanian. Bibit berasal dari Dinas Pertanian, kemudian dikembangkan dan dirawat oleh warga binaan pemasyarakatan, khususnya tim kegiatan kerja. Untuk produksi dalam sehari bisa dua sampai tiga kilo teh mint, tapi saat ini masih terkendala dalam pemasaran” ucapnya.
Ia menjelaskan, dari 17 lapas dan rutan yang memiliki produk unggulan masing-masing, Lapas Narkotika Karang Intan dipercaya mengembangkan teh mint karena dinilai memiliki potensi dan belum banyak dikembangkan di tempat lain. Saat ini kapasitas produksi teh mint di lapas ini mencapai dua hingga tiga kilogram per hari, akan tetapi saat ini masih terkendala dalam pemasarannya karena ruang lingkup yang terbatas.
Reporter: Suhardadi





