BPOM Angkat Bicara saat Kasus Keracunan MBG Masih Bermunculan

Jakarta, DUTA TV – Lebih dari 1.000 siswa dilaporkan keracunan makan bergizi gratis (MBG) pada periode Januari 2026.
Insiden tersebut terjadi pasca pemerintah mengupayakan penguatan pengawasan dan operasional dapur MBG.
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga kini diwajibkan mengantongi Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) sebelum bisa mendistribusikan MBG pada penerima manfaat.
Kepala BPOM RI Taruna Ikrar menjelaskan dari hasil pengamatan di lapangan, mayoritas kejadian keracunan bukan semata karena bahan makanan tak segar, tetapi lebih sering dipicu persoalan sanitasi dapur, cara pengolahan, hingga distribusi makanan tidak tepat.
“Yang sering kami amati, keracunan itu biasanya dari dapurnya, sanitasinya. Kedua, cara menyiapkannya. Ketiga, cara distribusinya yang sangat sensitif terhadap waktu dan suhu,” bebernya, Senin (9/2/2026).
Ia mencontohkan, daging beku yang langsung dimasak tanpa proses pencairan yang benar berisiko tidak matang di bagian dalam.
Begitu pula susu pasteurisasi yang tidak didistribusikan sesuai suhu, mudah basi dan memicu keracunan.
Selain faktor teknis, Taruna juga menyoroti faktor individu anak. Pasalnya, tidak semua anak memiliki kondisi yang sama.
Sejumlah anak memiliki alergi terhadap ikan, udang, kacang, atau bahan pangan tertentu.
Faktor ini kerap luput dari perhatian dan dapat menjadi pemicu Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan makan bergizi gratis di sekolah.
BPOM, menurut Taruna, melakukan pengawasan MBG secara menyeluruh.
“Kalau kita tahu penyebabnya, kita bisa mencegah. Karena semua ini berbasis sains. BPOM juga diberi tugas dalam aspek food safety dan food security,” jelasnya.
BPOM juga melakukan pendampingan kepada dapur-dapur MBG agar memenuhi standar higiene dan sanitasi sebelum dinyatakan layak beroperasi.
Dalam upaya pencegahan, BPOM disebutnya tidak hanya fokus pada dapur dan pengelola makanan, tetapi juga mendorong pelibatan guru dan orang tua.
Guru dan orang tua dinilai memiliki informasi penting terkait kondisi anak, terutama soal alergi atau pantangan makanan.
Informasi ini krusial agar makanan yang dibagikan tidak justru membahayakan anak.(dtk)





